3. Suara
Akhirnya, sang pangeran telah memantapkan diri untuk menetap di sana. Di dalam lubang yang sepi itu tak akan terpikir jika ada orang lain yang lebih dulu berada di sana. Tetapi, terdengar suara bisik-bisik yang cukup besar dan menakutkan. Mungkin karena dinding lubang yang menimbulkan gema, sehingga suara bisik-bisik tersebut terdengar besar. Erza mulai ketakutan. Pikirannya mulai kacau. Dia berpikir bahwa suara bisik-bisik tersebut merupakan suara hantu yang diceritakan banyak orang. Hantu yang selalu muncul di tempat angker, memakai pakaian putih, dan ada yang berjalan dengan cara melompat-lompat, berjalan biasa, atau menyeret tubuhnya sendiri. Penampilannya pun kacau balau. Rambutnya kacau, mukanya putih, matanya lebam, luka parah di muka, punggungnya berlubang, atau apa saja yang pernah didengarnya tentang itu.
Suara itu semakin besar. Erza pun benar-benar ketakutan. Mukanya pucat pasi. Kakinya gemetaran. Mukanya mulai mengeluarkan keringat dingin. Dia langsung melakukan ancang-ancang dan kabur. Erza berteriak tak karuan. Entah apa yang diteriakkannya. Apakah ingin meminta tolong, meneriakkan kata hantu, memanggil ibunya, latah, mengatai orang tersebut, atau dia meneriakkan hal-hal yang lain? Kesimpulannya, dia seperti orang hilang kesadaran. Apakah itu seperti epilepsi, ganggoan jiwa, sarafnya rusak, atau sesuatu yang lain yang menyangkut kesadarannya? Terserah pembaca menganggapnya apa.
Dia langsung menuju tempat awal dia masuk. Tetapi, suara itu semakin mendekatinya. Dia langusng menaiki tebing tersebut dan kembali ke dalam hutan. Suara itu tetap terdengar. Dia berlari terengah-engah. Akhirnya, ketika suara tersebut tidak terdengar lagi, dia berhenti berlari. Sekarang, dia lebih waspada terhadap sekitarnya. Dia takut jika terjadi sesuatu yang lebih mengerikan. Seharusnya, karena dia belum pernah pegi ke hutan, dia akan ketakutan dengan suara-suara di dalam hutan tersebut. Seperti suara burung hantu pada malam hari. Dia seharusnya menyadari bahaya di dalam hutan. Salah satunya ular. Gigitan atau lilitan ular dapat melukainya, bahkan membunuhnya. Sepertinya, dia sudah menyadarinya. Maka, dia mulai bersiap-siap membuat bivak alam dan membuat api. Dia mendapatkan pengetahuan itu dari buku yang pernah dibacanya. Tetapi, tetap saja dia tidak bisa melakukannya dengan benar. Dia terus mencoba, mencoba, dan mencoba. Tetapi, tetap saja usahanya gagal. Akhirnya dia putus asa. Di tengah keputus-asaannya, dia melihat sebuah goa. Dia tertarik untuk memasukinya. Tetapi, dia teringat dengan suara misterius yang menyeramkan itu. Dia membatalkan niatnya memasuki goa tersebut. Tetapi, langit pada saat itu berwarna gelap sekali dan menunjukkan bahwa ia sedang tidak bersahabat. Satu per satu air turun dari langit. Semakin lama semakin deras. Erza pun tidak punya pilihan lain kecuali berteduh di dalam goa tersebut.
Di dalam goa tersebut Erza terkejut melihat banyak senjata prajurit yang sudah berantakan dan perbekalannya yang sudah cukup basi, walaupun masih ada yang belum basi. Seperti buah-buahan. Lebih terkejut lagi saat dia melihat darah dan badan orang-orang yang terbunuh. Ada yang kepalanya buntung, kepalanya terbelah, terhunus pedang, tertusuk panah, dan lain-lain. Keadaan dalam goa tersebut seperti sangat tak terurus. Sudah tak terurus, dijadikan sangat tak terurus pula. Bulu kuduk Erza merinding. Tak punya pilihan, dia menetap di dalam sana untuk satu malam dan berharap semoga esok pagi langit telah cerah kembali. Dia pun melihat kesempatan. Dia mengambil senjata para prajurit seperti panah dan pedang dan mengambil perbekalan yang masih layak untuk dimakan. Karena lelah, akhirnya dia tak dapat menahan kantuknya dan tertidur. Sambil tertidur, dia berdo'a semoga besok sudah cerah kembali. Di tengah gelap dan dinginnya hutan malam itu, ditambah dengan derasnya air hujan, Erza tetap tertidur lelap dengan berselimut pakaian bekas prajurit yang terbunuh dalam goa tersebut.
Komentar
Posting Komentar