33. The Secret Five dan Mirror Wonderland

The Secret Five dan Mirror Wonderland

Raja Ehud mengutus lima orang kepercayaannya untuk membunuh Erza dan kawan-kawannya. Awalnya, ia mengutus dua orang untuk menangkap mereka. Namun, mereka berdua bergabung dengan Erza. Akhirnya, ia mengutus lima orang kepercayannya sebagai gantinya. Sebenarnya, siapa kelima orang itu? Mereka adalah pengikut setia Raja Ehud. Mereka dijuluki sebagai "The Secret Five". Merekalah yang membantu Raja Ehud dalam usahanya mengasingkan Erza dan menduduki tahta kerajaan. Mereka berlima dikenal sebagai penjahat kelas kakap yang bersembunyi di balik kegelapan. Mereka sering beraksi di tengah malam, ketika semua orang tengah tertidur lelap. Kelima orang itu adalah Aldric, Randi, Van Porter, Fredderson, dan Tauma.

Aldric adalah seorang ahli alkimia, kimia abad pertengahan yang mendambakan obat kekekalan hidup dan mengubah logam merah menjadi emas. Untuk para ahli alkimia, dua dambaan itu menjadi kiblat mereka dalam melakukan percobaan. Namun, Aldric mempunyai ambisi lain. Ia mendambakan obat penghidup dan pengendali mayat. Ia berambisi untuk menciptakan pasukan mayat. Ambisi itulah yang membuatnya menjadi pengikut setia Raja Ehud.

Randi adalah seorang ahli mekanik. Dalam hidupnya, ia berambisi untuk menciptakan senjata yang dapat digabungkan dengan tubuhnya. Dengan kata lain, ia berambisi untuk mengubah dirinya menjadi cyborg. Ia dan Fahri pernah bertemu di negeri lain. Saat itu, ia sedang belajar ilmu mekanik. Ia menaruh dendam pada Fahri yang telah menggagalkan misinya untuk mencuri kertas sketsa senjata tercanggih.

Van Porter adalah seorang ahli persenjataan. Ia bisa menciptakan berbagai jenis senjata. Baik panah maupun meriam. Ambisinya hanya satu, menciptakan senjata tiada banding. Untuk mewujudkan ambisinya, ia membunuh gurunya sendiri supaya ia mendapatkan buku catatan senjata rahasia. Namun, ia tidak berhasil mendapatkannya. Ia mendengar kabar bahwa buku itu dibawa oleh seseorang. Ternyata, Mehdi yang membawa buku itu. Karena kesal, ia segera mencari Mehdi. Ia pun menemukan Mehdi sedang memberikan buku itu kepada gurunya. Tanpa basa-basi, ia menyerang Mehdi dan gurunya. Akan tetapi, sang guru terlalu lincah untuk diserang. Akhirnya, tangan kirinya putus akibat dipotong oleh sang guru. Ia bersumpah untuk membunuh guru itu atau muridnya jika ia bertemu denga mereka lagi.

Fredderson adalah seorang pandai besi. Ia dikenal dengan hasil pedangnya yang menakjubkan. Pedang yang ia buat selalu pendek. Namun, ketajaman pedangnya tidak bisa diremehkan. Selain dikenal sebagai pandai besi, ia juga dikenal sebagai pembunuh. Ia membunuh siapapun yang dianggapnya mengganggu. Karena itu, ia menjadi buronan nasional. Raja Ehud melihat ia memiliki potensi untuk menjadi alat pembunuh. Ia pun merekrutnya sebagai pengikut setianya.

Tauma adalah seorang dukun dari Desa Taumatari, sebuah desa yang terletak di ujung Pulau Miraculeus. Ia dikenal sebagai dukun yang sering membunuh warga dengan ilmunya. Ia sudah membunuh ratusan orang. Ia mempunyai sebuah keyakinan .Dengan membunuh banyak orang, ia bisa menjadi lebih kuat. Bahkan, ia tak akan bisa mati. Ia pernah bertarung dengan Rayhan di sebuah menara di desanya. Namun, ia kalah dalam pertarungan itu. Ia bersumpah akan membunuhnya jika ia bertemu dengannya lagi.

Sekarang, mereka berlima sudah sampai di Kota Jambalroti dengan bantuan Rachen, tukang sihir istana kepercayaan Raja Ehud. Mereka berlima menunggu waktu yang tepat untuk membunuh Erza dan teman-temannya. Sambil menunggu, Tauma mencoba untuk membunuh seekor burung yang terbang di atasnya. Ia mengeluarkan sebuah kendi ukuran kecil yang berisi air yang ditaburi kembang tujuh rupa dan tujuh warna. Lalu, ia membaca sebuah mantra.

"Pupuspaeheta, pupuspaeheta, pupuspaeheta, pupus!" Tauma membaca sebuah mantra. Dalam waktu kurang dari sedetik, burung yang terbang di atasnya langsung jatuh terkapar. Ia tidak bisa bernafas lagi. Jantungnya sudah berhenti. Burung itu sudah mati.

"Singgosong, gosong, gosong!" Burung itu langsung terbakar dengan sendirinya.

"Singpadam, singpadam, singpadam, padam!" Api langsung lenyap dari tubuh burung itu.

Tauma langsung mengambil burung itu dan memakannya. Melihat aksi Tauma, Van Porter dan Aldric ingin mencoba keahlian mereka. Mereka melihat sebuah ikan yang terpancing oleh seorang pemancing. Dengan senjatanya dan kelihaiannya, Van Porter langsung melempar pisau kecil ke benang pancing pemancing itu. "TASS!" benang pancing itu terputus. Van Porter langsung melempar paku yang diikat dengan benang ke ikan itu. Ikan pun berhasil ia peroleh. Setelah itu, Aldric membakar ikan itu dengan bahan-bahan kimia yang ia bawa. Mereka berdua memakan ikan itu.

Sementara itu, Fredderson sedang asyik membaca buku yang ia bawa. Ia sama sekali tidak tertarik untuk menunjukkan keahliannya. Ia mengeluarkan sebuah roti dari tasnya dan memakannya.

"Ngapain repot-repot berburu hewan di tempat ini?" kata Fredderson dengan nada dingin.

"Iseng aja." kata Aldric.

"Kurang kerjaan." kata Fredderson dengan nada dingin.

Aldric membuka peta yang diberikan oleh Raja Ehud. Ia melihat Erza dan teman-temannya masih berada di Desa Blacksteel.

"Mereka nggak gerak-gerak juga." kata Aldric.

"Gerak nggak gerak itu urusan mereka." kata Fredderson.

"Tapi 'kan?" kata Aldric.

"Kita tunggu aja sampai mereka bergerak." kata Fredderson.

Mereka berlima duduk-duduk sambil melamun. Aldric sedang membayangkan dirinya menjadi manusia yang tidak bisa mati dan mempunyai banyak pasukan zombi. Ia membayangkan dirinya begitu gagah dan tidak bisa dibunuh. Ia menjadi raja zombi. Ia terus menaklukkan banyak negeri. Akhirnya, ia dinobatkan sebagai raja dunia.

"Akulah sang raja! Hwahwahwa!" teriak Aldric. Teriakan Aldric dan gayanya yang tidak jelas diperhatikan oleh seorang anak kecil yang sedang pergi berbelanja bersama ibunya.

"Mama, mama, orang itu kenapa?" tanya anak kecil itu.

"Ssst! Itu orang gila! Jangan diganggu!" kata ibunya.

Mendengar perkataan itu, Aldric langsung naik pitam. Mukanya berubah menjadi merah. Ia langsung berteriak-teriak.

"Ibu-ibu kurang ajar! Sini kamu! Biar saya hajar!" teriak Aldric.

"Aldric, kamu harus tetap kalem. Cool. Cool man." kata Fredderson.

Aldric kembali duduk. Tiba-tiba, Fredderson tertawa terbahak-bahak. Mereka berempat melongo melihat temannya yang tertawa terbahak-bahak.

"Otak kamu rusak?" tanya Van Porter.

"Nggak." jawab Fredderson.

"Oh. Tadinya aku mau bongkar otak kamu." kata Van Porter.

"Terima kasih atas kebaikanmu. Tapi, aku nggak butuh dibongkar." kata Fredderson.

Sementara itu, Erza dan teman-temannya sedang tertidur lelap di halaman belakang Paman Erwin. Mereka tidur berdesak-desakan. Akhirnya, mereka terlihat seperti mayat bergelimpangan. Paman Erwin tertawa melihatnya.

Mereka semua terbangun pada sore hari. Ketika mereka terbangun, mereka semua terheran-heran. Mereka melihat langit berwarna jingga. Mereka pun sadar bahwa mereka bangun pada sore hari. Mereka pun mengobrol hingga petang tiba. Ketika petang tiba, mereka menyalakan api unggun. Mereka membakar beberapa ekor ayam untuk mereka santap.

Setelah selesai makan malam, mereka mencari ide untuk melakukan sesuatu yang menarik.

"Gimana kalau kita main sepak bola?" usul Rayhan.

"Boleh, sih. Tapi agak sempit." kata Erza.

"Main kelereng?" usul Mehdi.

"Kelerengnya mana?" tanya Erza.

"Ganti aja sama buah-buahan yang kecil." jawab Mehdi.

"Kalau gitu, mana buah-buahannya?" tanya Erza.

"Nggak tau. Kita cari aja." jawab Mehdi.

"Keburu malam." kata Erza.

Setelah berpikir sangat lama, akhirnya mereka bermain lempar tangkap bola. Mereka terus bermain hingga larut malam. Setelah puas bermain, mereka pun tertidur lelap dengan api unggun yang masih menyala. Paman Erwin pergi menuju hutan dengan membawa gitar. Ia berjalan dan terus berjalan. Ia menembus gelapnya hutan tanpa ditemani cahaya. Setelah berjalan cukup jauh, ia berhenti di depan sebatang pohon yang sangat besar. Ia duduk di sebuah batu besar yang berada di bawah pohon itu. Lalu, ia memetik gitarnya.
Ketika ia sedang memetik gitar, ia melihat sekelibat bayangan putih yang lewat di depannya. Karena penasaran, ia bangkit dari duduknya dan langsung mengejar bayangan itu. Sesuai dugaannya, bayangan itu berjalan lebih cepat. Dengan cerdik, ia mengejar bayangan itu dengan cara melompati dahan-dahan pepohonan. Akhirnya, ia berhasil mengejar bayangan itu. Akan tetapi, bayangan itu langsung menghilang. Ia segera berhenti dan langsung mencari bayangan itu. Tiba-tiba, bayangan itu muncul di belakangnya. Tanpa sempat menoleh ke belakang, ia langsung dipukul hingga pingsan. Bayangan putih itu langsung melesat pergi meninggalkan Paman Erwin yang tergeletak di dahan pohon.
 Bayangan itu terus melesat hingga ke Desa Blacksteel. Di desa itu, bayangan itu tetap melesat. Bayangan itu akhirnya berhenti di halaman belakang rumah Paman Erwin. Bayangan itu mendekati Erza yang tengah tertidur lelap. Bayangan itu langsung menyinari Erza dengan tangannya. Seketika itu pula, Erza dan bayangan itu menghilang dari tempat itu.
                                      ............
 "Erza, Erza, bangun." kata bayangan itu. Perlahan-lahan mata Erza terbuka. Ia pun terbangun dari tidurnya.
 "Di mana ini? Kamu juga siapa?" tanya Erza dengan terheran-heran.
 "Ini, ini di luar dunia nyata." jawab bayangan itu.
 "Kalau gitu, ini di alam kubur!?" tanya Erza dengan ketakutan.
 "Salah, Erza. Ini bukan alam kubur. Ini dunia cermin, Mirror Wonderland. Dunia ini hanya bisa dimasuki oleh raja-raja kerajaan Mirror dan keturunannya." jawab bayangan itu.
 Erza melihat sekelilingnya. Ia benar-benar terkejut! Ternyata, dunia itu dipenuhi dengan berlian dan kaca. Selain itu, ia melihat padang rumput yang sangat luas yang terletak di ujung sana. Ternyata, itu bukan padang rumput biasa. Rumput-rumput itu adalah rumput yang bercampur dengan batu permata. Ia pun melihat lautan luas yang terbentang di ujung yang lainnya. Ternyata, di dalam lautan itu terdapat batu safir. Ia juga melihat sawah yang terhampar luas. Padi itu bukan berisi beras, melainkan butiran-butiran emas! Ia semakin takjub dan terheran-heran.
 "Nah, bagaimana?" tanya bayangan itu. Erza hanya bisa melongo.
 "Erza, Erza." kata bayangan itu.
 "Ya, ada apa?" tanya Erza yang sadar kembali.
 "Tempat ini bagus 'kan?" tanya bayangan itu.
 "Ya." jawab Erza.
 "Mau jalan-jalan keliling Mirror Wonderland?" tanya bayangan itu.
 "Boleh." jawab Erza.
Bayangan itu langsung memanggil sebuah burung yang berukuran besar dan bulu-bulunya bagaikan emas. Ia dan Erza langsung menaiki burung itu. Burung itupun terbang. Mereka mengelilingi Mirror Wonderland dengan menaiki burung itu.
 Ketika baru saja terbang, Erza langsung terpana melihat keindahan Mirror Wonderland dari atas langit. Ia melihat lautan yang berkilau, padang rumput yang bersinar, sawah yang memancarkan cahaya, dan awan yang dipenuhi dengan kristal-kristal. Burung itu mulai menjelajahi tempat itu. Erza pun semakin terpana dengan tempat itu. Ia melihat burung-burung dengan bulu emas, ikan-ikan yang bersisik batu safir, dan serigala dengan bulu batu rubi. Di antara semua hewan yang ia lihat, ia sangat takjub dengan seekor burung besar dan panjang yang memiliki bulu yang berwarna-warni di satu tubuhnya. Bulu itu memantulkan cahaya yang sangat berkilau. Terlalu indah untuk dipandang. Setelah puas, mereka berdua turun di sebuah danau yang sangat luas.
 "Erza, saya ingin menunjukkan sesuatu untukmu." kata bayangan itu.
"Apa itu?" tanya Erza.
Bayangan itu menunjukkan sebuah cermin kecil kepada Erza.
 "Ingatlah, setiap kamu melihat cermin, kamu akan melihat dirimu. Di situlah saya akan muncul untuk mengingatkanmu atau menasehatimu." kata bayangan itu.
 "Jadi, kamu itu..." kata Erza.
 "Ya, aku adalah bayangan kamu. Sebagai bayangan kamu, saya akan membantumu untuk merebut kembali tahta kerajaan. Oh, ya, saya juga tahu tinggal berapa lagi orang-orang dan berlian yang belum terkupul." kata bayangan Erza.
 "Coba sebutkan." kata Erza.
 "Orang yang belum terkumpul tinggal 12 orang lagi sedangkan berlian tinggal empat lagi. Mau saya kasih tahu 12 orang dan empat berlian yang belum terkumpul?" tanya bayangannya. Erza mengangguk.
 "Baiklah, ke-12 orang itu adalah Salma, Shabna, Rara, Putik, Savannah, Isti, Jehan, Ovi, Fathia, Ocha, Fitri, dan Hilman. Mereka semua ada di Kota Miracle. Sisa empat berlian ada di tangan Mehdi, Savannah, Fitri, dan Hilman." kata bayangannya.
 "Nah, aku mau balik ke dunia nyata dulu." kata Erza.
 "Silakan, kamu tinggal nyemplung ke danau ini. Nanti juga udah sampai lagi di dunia nyata." kata bayangannya.
 "Yang bener?" tanya Erza.
 "Bener." jawab bayangannya.
 "Ya udah, aku mau balik dulu. Dadah." kata Erza.
 "Tunggu dulu!" teriak bayangannya. Erza langsung berhenti melangkah. Padahal, ia hampir saja masuk ke danau itu.

"Ada apa?" tanya Erza.
 "Hati-hati sama Fitri dan Hilman. Mereka berdua susah untuk dibujuk agar ikut denganmu." kata bayangannya.
 "Makasih infonya. Aku mau balik dulu. Dadah." kata Erza sambil masuk ke danau itu.
 "Dadah." balas bayangannya.
 Dengan waktu yang sangat singkat, Erza sudah kembali ke dunia nyata. Ternyata, teman-temannya sudah bangun.
 "Za, cepet amat bangunnya." tanya Rayhan.
 "Ya, begitulah." kata Erza.
 Tanpa berbasa-basi dan membuang waktu lama, Erza segera memberitahu tujuan selanjutnya.
 "Ya, teman-temanku semuanya, kita akan berangkat ke Kota Miracle!" kata Erza.
 "Tumben pake kata 'teman-temanku semuanya'." kata Rendy.
 "Sok baik amat!" kata Damar menimpali.
 "Ya udah! Intinya, kita akan ke Kota Miracle pagi ini juga!" kata Erza.
 "Oke, oke." kata Rendy.
 Erza dan teman-temannya langsung bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Setelah siap, mereka berpamitan dengan Paman Erwin. Namun, Paman Erwin tidak ada di dalam rumah. Mereka mencari Paman Erwin ke rumah-rumah penduduk. Akan tetapi, ia tetap tidak ditemukan. Akhirnya, mereka menulis surat izin pamit di atas meja Paman Erwin. Setelah itu, mereka berpamitan dengan tetangga Paman Erwin dan langsung pergi melanjutkan perjalanan.
 Sebentar, apakah Paman Erwin akan terbangun setelah dipukul oleh bayangan itu? Jawabannya, ya. Ia terbangun dan berjalan menuju rumahnya dengan sempoyongan. Ketika ia sampai di rumahnya, ia tidak melihat Erza dan teman-temannya. Karena penasaran, ia bertanya kepada tetangganya. Tetangganya menjawab Erza dan teman-temannya sudah pergi melanjutkan perjalanan. Setelah bertanya, ia masuk ke dalam rumahnya. Ketika ia masuk ke dalam rumahnya, ia melihat sebuah surat di atas mejanya. Ia membaca surat tersebut. Akhirnya, ia memahami mengapa mereka pergi lebih cepat. Ia pun pergi ke teras rumahnya dan memainkan gitar yang tadi ia bawa sambil melamun. Sambil bermain gitar, ia juga berharap agar Erza berhasil merebut tahta kerajaan.
 "Erza, semoga berhasil. Paman akan mendo'akanmu di sini." kata Paman Erwin.

Ia terus bermain gitar tanpa memedulikan waktu. Dari mukanya terlihat bahwa ia sangat lelah. Namun, ia tetap bermain gitar. Ia terus memainkan banyak lagu. Ia bermain gitar dari pagi hingga sore. Aduh, Paman Erwin. Jangan cuma main gitar saja. Lakukan kegiatan lain yang lebih bermanfaat daripada sekedar bermain gitar. Jangan seperti orang lagi patah hati. Ya sudah, penulis tidak mengurusnya. Masih banyak yang harus diurus. Mari kita pindah ke bagian selanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya