10. Pelajaran Hidup
Setelah Erza menginap di Kota Harapan selama sehari dan mengalahkan buronan penjahat "Bayangan Kematian", ia berhasil mendapatkan satu dari 69 orang terpilih, yaitu Rayhan. Kini, ia dan Rayhan sedang melanjutkan perjalanan mereka. Mereka sedang melewati hutan yang rimbun dan hijau. Burung-burung berkicauan di atas mereka. Mereka sama sekali tidak merasakan lelah. Hutan itu memang indah. Banyak orang yang menyukai tempat ini. Di pinggir jalan hutan tersebut, ada beberapa orang sedang beristirahat sambil menikmati indahnya hutan itu. Ketika orang-orang di hutan itu sedang beristirahat, datanglah segerombolan penjarah dengan mengendarai kuda. Mereka langsung menjarah barang-barang milik orang-orang yang berada di sana. Rayhan yang sedang mengendarai kuda pun langsung menghentikan kudanya. Rayhan dan Erza pun turun dari kuda tersebut dan langsung menghadapi gerombolan tersebut.
"Berhenti kalian semua!" teriak Erza.
"Ya, berhenti!" teriak Rayhan.
Gerombolan tersebut langsung menatap mereka berdua dengan marah. Pemimpin gerombolan tersebut langsung maju menghadapi mereka berdua. Badannya besar, kekar, dan tinggi. Mukanya sangat garang. Matanya sangat merah. Kumisnya sangat tebal. Urat-urat di kepalanya terlihat dengan jelas. Senjata yang ia bawa pun banyak. Di pinggangnya terdapat berbagai macam pedang. Mulai yang terbesar sampai terkecil, dan ada juga pedang yang sangat tajam. Di punggungnya, terdapat martil yang sangat besar. Katanya, martil itu pernah digunakan untuk memukul banyak orang hingga orang-orang tersebut terpental jaun hingga sampai di sebuah kota. Di saku celananya terdapat rantai, cambuk, dan tali tambang. Orang-orang menyebut gerombolan tersebut dengan sebutan "Pemusnah Massal". Pemimpinnya dijuluki "Tangan Pemusnah". Pemimpin tersebut memiliki tiga anak buah. Semua anak buahnya memiliki julukan tersendiri. Anak buah pertama dijuluki "Tangan Ular" karena tangannya yang lincah. Anak buah yang kedua dijuluki "Kaki Raksasa" karena kekuatan kakinya. Anak buah yang ketiga dijuluki "Manusia Senjata" karena dapat menguasai hampir semua senjata.
"Sok pahlawan kalian. Emangnya kalian nggak tau kami ini siapa!?" tanya pemimpin tersebut.
"Tidak!" jawab Erza.
"Wahahahahaha! Masa' kalian nggak tau kami ini siapa!? Hah!? Payah kalian! Kami ini gerombolan "Pemusnah Massal"! Kami sudah pernah menghancurkan beberapa tempat di berbagai kota. Kerja kami adalah menjarah harta orang! Kami pun tidak segan untuk membunuh siapapun yang berani melawan kami. Mau bukti? Nih!" pemimpin gerombolan tersebut melemparkan sebuah botol berisi darah manusia kepada Erza dan Rayhan.
"Ngapain kalian nyimpen darah orang?" tanya Rayhan.
"Ya, iseng-iseng aja. Kami juga punya tengkorak orang mati, kok!" jawab pemimpin gerombolan tersebut.
"Ah! nggak usah banyak omong lagi!" teriak pemimpin gerombolan tersebut sambil mengeluarkan pedang terbesarnya.
Erza dan Rayhan langsung mengeluarkan pedang mereka juga. Anak buah gerombolan tersebut langsung mengeluarkan senjata mereka. Sang Pemimpin menunjuk anak buahnya yang pertama untuk maju melawan Erza dan Rayhan. Orang-orang yang berada di sana terdiam. Mereka menyaksikan mereka dengan perasaan takut dan khawatir. Apakah Erza dan Rayhan bisa mengalahkan mereka seperti sebelumnya? Seperti apa kekuatan gerombolan yang satu ini? Semua itu masih belum jelas.
Pertarungan pun dimulai. Erza menghadapi sang pemimpin sedangkan Rayhan menghadapi anak buahnya. Lagi-lagi, Erza harus berhadapan dengan lawan yang memakai senjata yang besar dan memiliki tenaga besar. Belajar dari pengalaman sebelumnya, Erza lebih berhati-hati melawan sang pemimpin. Ia melihat celah mana yang dapat ia serang. Tetapi, ia langsung mendapat serangan dari sang pemimpin. Untungnya, Erza cepat menghindar. Sang pemimpin langsung menyerang Erza bertubi-tubi. Erza hanya bisa bertahan. Ia berpikir bagaimana caranya untuk menyerang balik sang pemimpin.
Sementara itu, Rayhan harus berhadapan dengan musuh yang mempunyai serangan yang cepat dan menusuk. Ia pun harus menjaga jarak dengan lawannya. Di tangannya hanya ada pedang, tak ada yang lain. Ia pun berpikir bagaimana caranya menyerang lawannya yang lincah tersebut. Dengan keringat yang bercucuran, Rayhan terus mengamati lawannya. Setelah diam beberapa lama, sang lawan langsung menyerang Rayhan. Rayhan langsung menghindar dan menyerang dari belakang. Sayangnya, lawannya dapat menangkis serangannya. Pertarungan pun menjadi sengit. Rayhan berusaha menyerang lawannya sekaligus bertahan dari serangan lawannya. Tetapi, ketika ia menangkis sebuah serangan, pedangnya terlepas dari tangannya. Ia berusaha mengambilnya kembali. Namun, pedangnya langsung diambil oleh lawannya. Sekarang, ia benar-benar terpojok. Ia hanya bisa berlari dan menghindar dari serangan maut lawannya.
Kedua anak buah gerombolan tersebut mendapat ide. Mereka langsung mengendap-endap mencuri perbekalan Erza dan Rayhan. Rayhan yang terpojok melihat mereka berdua sedang mengambil perbekalannya. Ia langsung berteriak.
"Erza, ada maling!" teriak Rayhan.
"Woi, ada apa!?" tanya Erza.
"Maling!" teriak Rayhan.
"Apaan sih? Aku lagi susah nih!" teriak Erza.
"Maling, Erza. Maling!" teriak Rayhan.
"Apa sih?" tanya Erza.
"Lihat ke belakang!" teriak Rayhan.
"Apa!?" tanya Erza.
"LIHAT KE BELAKANG!" teriak Rayhan.
Erza pun langsung mengikuti perintah Rayhan. Ia terkejut melihat perbekalannya sedang diambil oleh kedua anak buah sang pemimpin. Ia pun langsung berlari mengejar kedua orang tersebut. Kedua orang tersebut langsung turun dan berlari. Sang pemimpin langsung mengejar Erza sambil menyerangnya. Anak buah pertamanya hanya bisa terpaku melihatnya. Mulutnya terbuka lebar. Matanya melotot. Tampangnya seperti orang aneh. Melihat kesempatan itu, Rayhan langsung mendekati lawannya dan memukulnya. Rayhan langsung melanjutkan pukulannya lagi. Ia menyerang secara bertubi-tubi. Terakhir, ia menendang sang lawan hingga sang lawan terpental jauh dan mengenai pohon. Sebelum sang lawan berusaha bangkit, Rayhan langsung mengambil dua pedang yang ada di tangan lawannya dan memukuli sang lawan dengan gagang pedang hingga pingsan. Ia mengambil sebuah tali yang tergeletak di sebuah gerobak dan mengikat kedua tangan dan kaki lawannya. Setelah itu, ia mengambil beberapa senjata yang dimiliki lawannya dan mengejar salah satu anak buah gerombolan tersebut.
"Woi, tunggu!" teriak Erza.
"Woi, kamu bawa senjata nggak?" bisik anak buah kedua kepada anak buah ketiga.
"Waduh, ada di kuda." jawab anak buah ketiga.
"Dasar payah!" kata anak buah kedua.
"Kalau kamu sendiri gimana?" tanya anak buah ketiga.
"Eh, ada di kuda." jawab anak buah kedua.
"Huh, sama aja." ledek anak buah ketiga.
"Apa!?" tanya anak buah kedua.
"Sama aja." ledek anak buah ketiga kembali.
Anak buah kedua langsung menyenggol anak buah ketiga dengan keras. Anak buah ketiga langsung membalas. Akhirnya, mereka berdua berkelahi. Tanpa basa-basi, Erza langsung menusuk jantung mereka berdua. Mereka berdua langsung tewas. Sang Pemimpin hanya bisa diam melihatnya. Ia tak percaya, anak buahnya begitu kacaunya hingga mereka saling menyerang. Apalagi sampai terbunuh oleh lawannya karena kesalahan mereka sendiri.
"Kau! Beraninya membunuh anak buahku... Awas kau!" sang pemimpin langsung mengayunkan pedangnya. Tetapi...
"AAAAAAAAAAAAAA!" teriak sang pemimpin kesakitan. Rupanya, kepalanya sudah tertancap sebuah pedang. Sang pemimpin berteriak kesakitan. Teriakannya begitu mengerikan.
"Sakiiiit! Sakiiiit! AAAAAAAAAAAAA!" teriak sang pemimpin.
Tidak lama setelah itu, "JLEB!" sebuah pedang tertancap lagi di kepalanya. Sang pemimpin kembali berteriak. Kali ini, teriakannya lebih kencang. Darah segar mulai mengucur dari kepalanya. Hingga akhirnya, sang pemimpin rubuh dan tewas. Lalu, datanglah Rayhan.
"Rayhan, jadi kamu..." tanya Erza.
"Ya." jawab Rayhan.
"Tapi..." tanya Erza.
Rayhan menunjuk sebuah tali yang kedua ujungnya diikat di pohon bagian atas.
"Wah, pinter juga kamu." puji Erza.
"Biasa aja." kata Rayhan.
Kemudian, Erza melihat seseorang yang sedang pingsan dan tangan dan kakinya diikat.
"Siapa itu?" tanya Erza.
"Anak buah orang ini." jawab Rayhan.
"Mau diapain itu orang?" tanya Erza.
"Kita bawa aja orang itu." jawab Rayhan.
"Kalau tiba-tiba dia bangun terus berontak?" tanya Erza.
"Kita buang aja." jawab Rayhan.
"Ya udah, kita bawa dia." kata Erza.
Mereka pun menaruh orang tersebut di gerobak mereka. Sedangkan sang pemimpin dan anak buahnya yang mati diurus oleh orang-orang yang ada di sana.
"Terima kasih sudah menyelamatkan kami." kata salah seorang dari orang-orang yang berada di sana.
"Sama-sama." kata Erza dan Rayhan.
"Sebagai tanda terima kasih kami, terimalah beberapa makanan dan uang dari kami." kata orang tersebut.
"Baiklah." kata Erza sambil menerimanya.
"Oh, ya, itu kuda gimana nasibnya?" tanya orang tersebut.
"Sebentar." kata Rayhan.
Rayhan mengambil beberapa senjata dari dalam tas yang ada di kuda tersebut.
"Saya cuma ambil senjatanya saja. Sisanya, buat anda sekalian." kata Rayhan.
"Benarkah? Terima kasih." kata orang tersebut.
"Sama-sama." kata Rayhan.
Erza dan Rayhan pun melanjutkan perjalanan dengan beberapa senjata baru dan tawanan mereka. Akhirnya, mereka mendapatkan tambahan perbekalan. Setelah beberapa lama, akhirnya mereka keluar dari hutan tersebut dan sampai di sebuah pesawahan yang sangat luas. Rayhan memacu kudanya lebih cepat. Gerobak pun bergerak lebih cepat. Selama perjalanan, mereka mendengar dan melihat sekumpulan anak kecil yang sedang bermain sambil bernyanyi. Mereka juga melihat petani yang sedang menanam padi. Dengan hati yang senang, Rayhan memacu kudanya lebih cepat. Saat itu juga, seorang anak kecil berlari mengejar gerobak tersebut seolah ingin menyusul gerobak tersebut. Tetapi, anak itu terjatuh dan berlari lagi. Erza melihatnya sambil merenung. Betapa bahagianya anak tersebut. Anak tersebut berlari seolah tak ada beban yang dipikulnya. Betapa bebasnya anak itu.
Hari masih siang. Angin berhembus sepoi-sepoi. Erza memandangi sawah tersebut dengan takjub. Sebelum diasingkan, ia tak pernah melihat pemandangan ini. Sekarang, ia menyadari sesuatu. Seharusnya, ia bersyukur bisa melihat pemandangan yang indah ini. Ia pun berpikir, mungkin inilah takdirnya. Ia tak boleh berputus asa dan menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya. Hidup ini penuh perjuangan, pikirnya. Karena itu, aku tidak boleh putus asa, katanya dalam hati. Hatinya mulai teguh dalam melewati perjalanan yang panjang ini.
Akhirnya, Erza mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Hidup ini penuh perjuangan dan kita tidak boleh berputus asa. Teruslah berusaha semaksimal mungkin. Itulah pelajaran yang dapat ia tangkap.
Sementara itu, di sebuah bukit di desa nun jauh di sana, ada seseorang yang sedang duduk sambil memandangi langit. Orang tersebut bergumam dalam hatinya.
"Berusahalah, Erza!" gumam Pak Acep.
Komentar
Posting Komentar