12. Pertarungan Berdarah

Matahari sudah muncul di ufuk timur. Cahayanya menembus dalam gua tersebut. Rayhan pun terbangun. Disusul dengan Erza dan Deiki. Mereka pun langsung beres- beres dan makan pagi. Sebelum pergi mereka membuat rencana terlebih dahulu.

"Sebelum kita pergi, kita buat rencana dulu." kata Erza.

"Ya." kata Rayhan menimpali.

"Ah, ngapain buat rencana. Kita 'kan pengelana. Nggak usah buat rencana." kata Deiki.

"Tapi, kita 'kan harus ngumpulin 69 orang terpilih dan 13 berlian." kata Erza.

"Ya. Makanya, kita harus buat rencana." kata Rayhan.

"Ya, ya. Tapi, jangan lama." kata Deiki.

Mereka pun membuat rencana tentang tujuan mereka. Supaya tahu tujuan, mereka membuka peta.

"Kita lihat kota terdekat dari sini." kata Erza.

"Kalau dilihat dari posisi kita... Ngg, posisi kita di mana sih?" tanya Erza.

"Kita itu ada di jalur antara desa kosong ini dan kota ini." kata Deiki sambil menunjukkan sebuah sebuah desa dan kota di peta tersebut.

"Desa Lumbung dan Kotabaru Perantauan. Oke, kita ke Kotabaru Perantauan." kata Erza.

"Setuju!" kata Rayhan dan Deiki.

Mereka pun bersiap-siap menuju Kotabaru Perantauan. Setelah semuanya siap, mereka pergi menuju kota tersebut. Kali ini, Deiki yang mengendalikan kudanya. Sepanjang perjalanan, Deiki menceritakan seluk beluk tentang Desa Lumbung dan Kotabaru Perantauan.

"Dulu, banyak orang yang tinggal di desa itu. Desa itu adalah tempat produksi beras untuk dijual ke kota-kota lain, termasuk Kotabaru Perantauan. Tetapi, seluruh penduduk di desa itu terkena penyakit aneh dengan gejala seperti kulit hitam dan melepuh, badan lemas dan tidak bisa digerakkan, panas tinggi, keluar darah dari hidungnya, dan muntah darah. Saat itu, kerajaan mengambil tindakan untuk membawa seluruh penduduk yang sehat ke sebuah tempat karantina, menutup desa itu, dan mengobati penduduk yang terkena penyakit itu. Tetapi, semua perbuatan itu sia-sia. Penduduk yang sehat ternyata terkena penyakit tersebut dan seluruh penduduk yang dirawat di desa itu meninggal. Karena penasaran, seorang ilmuwan mengambil sampel virus penyakit tersebut dan menelitinya. Baru-baru ini, beredar kabar bahwa ilmuwan tersebut telah berhasil meneliti penyakit tersebut." Deiki bercerita dengan panjang lebar.

"Apa penyakitnya?" tanya Erza.

"Penyakit itu adalah demam hitam. Penyebabnya adalah virus yang dibawa oleh nyamuk hitam, nyamuk endemik negeri ini. Penyakit itu dapat disembuhkan dengan ramuan herbal. Yaitu, campuran antara semangka hijau, kunyit, jahe, anggur coklat, dan buah kuning." jawab Deiki.

"Kalau Kotabaru itu kayak gimana?" tanya Erza.

"Kotabaru itu tempatnya orang-orang pergi ke luar negeri atau datang ke negeri ini. Kota itu tempatnya pelabuhan internasional. Di sana banyak orang-orang dari luar negeri yang tinggal di sana. Di sana juga banyak barang-barang dari luar negeri yang harganya murah. Karena banyak penduduk yang merantau ke sana dan tinggal di sana, maka kota itu disebut Kotabaru Perantauan." jawab Deiki.

Setelah beberapa lama mereka melakukan perjalanan, akhirnya mereka sampai di Kotabaru Perantauan. Kota tersebut terletak di pinggir pantai. Banyak orang-orang asing di sana. Udara di kota itu sangat panas. Maklum, terletak di pinggir pantai. Mereka pun langsung mengelilingi kota itu. Sepanjang jalan, mereka selalu ditawari sesuatu oleh pedagang.

"Udang segar, udang segar! Murah, murah!" teriak seorang pedagang.

"Ikan segar, ikan segar! Baru dari laut! Harganya murah!" teriak seorang pedagang.

Ketika mereka sedang berjalan mengelilingi kota. Tiba-tiba mereka dikagetkan oleh seseorang.

"Woi, Rayhan!" teriak seseorang.

"Eh, Fahri!" balas Rayhan.

Fahri langsung menghampiri gerobak Rayhan, Erza, dan Deiki.

"Ada apa kamu ke sini." tanya Fahri.

"Sedang berkelana." jawab Rayhan.

"Wes, gaya ternyata kamu!" kata Fahri.

"Mampir dulu ke pondok aku, yuk!" kata Fahri.

"Wah, kebetulan. Ayo!" kata Rayhan.

Mereka pun pergi ke tempat tinggal Fahri, Pondok Perantauan. Teman-teman Fahri sedang di dalam pondok. Fahri mempersilahkan Rayhan, Erza, dan Deiki masuk.

"Silakan masuk." kata Fahri.

"Makasih." kata Rayhan.

Rayhan pun masuk ke dalam pondok. Kedatangannya langsung disambut oleh Alidza dan Ammar.

"Wah, Rayhan. Tumben datang ke sini." kata Alidza.

"Ya, tumben." kata Ammar.

"Biasa aja." kata Rayhan.

"Udahlah, jangan gitu." kata Alidza.

"Ya, kita 'kan teman." kata Ammar.

"Ya, udah. Aku ambil air dulu." kata Alidza.

"Nggak usah repot-repot." kata Rayhan.

"Udah, nggak apa-apa." kata Alidza.

Alidza pun mengambil minuman dari dapur. Sedangkan Fahri dan Ammar sedang mengobrol dengan Rayhan, Erza, dan Deiki.

"Eh, kamu baru pulang dari luar negeri?" tanya Rayhan.

"Ya, aku baru pulang tadi malam. Terus, aku dijemput oleh Ammar dan Alidza." jawab Fahri.

"Kamu bawa oleh-oleh apa?" tanya Rayhan.

"Ah, ternyata, selama ini sang penasehat adalah orang rakus. Orang yang baru pulang dari luar negeri langsung dimintai oleh-oleh." kata Fahri.

"Apaan sih? Cuma nanya aja." kata Rayhan.

"Ah, Rayhan ngambek. Cuma bercanda aja udah ngambek." kata Fahri.

"Siapa lagi yang ngambek?" kata Rayhan.

"Ya, kamu. Emangnya siapa lagi?" tanya Fahri.

"Bisa aja yang lain." jawab Rayhan.

"Ya, ya. Aku bawa dulu oleh-olehnya." kata Fahri sambil berdiri untuk mengambil oleh-oleh.

Tak lama kemudian, Fahri membawa beberapa kantung dan kotak yang berisi oleh-oleh dari luar negeri.

"Wah, bagus-bagus semua, nih!" kata Rayhan.

"Ya, dong! Kalau di sini pasti lebih mahal." kata Fahri.

Ketika mereka sedang mengobrol, datang Alidza membawakan minuman.

"Ayo, silakan diminum." kata Alidza.

"Ya." kata Rayhan.

Alidza pun duduk dan ikut mengobrol dengan Fahri dan Rayhan. Ketika mereka sedang mengobrol, terdengar suara ketukan pintu.

"TUK, TUK, TUK." suara ketukan pintu terdengar.

"Ya, siapa?" tanya Alidza sambil menuju pintu.

"Biasa. Fabian sama Galih." kata seseorang yang mengetuk pintu.

Alidza pun membuka pintu.

"Eh, Fabian, Galih. Ayo masuk. Di dalam lagi ada Rayhan sama teman-teman barunya." ajak Alidza.

"Ya." kata Fabian dan Galih.

Mereka pun masuk ke dalam pondok. Di dalamnya terdapat Rayhan, Erza, Deiki, dan Ammar sedang mengobrol.

"Halo." kata Galih.

"Halo juga." kata Ammar.

"Eh, ada Rayhan." kata Galih sambil menoleh ke arah Rayhan.

"Eh, siapa itu?" tanya Fabian.

"Itu teman-teman barunya Rayhan." kata Fahri.

"Saya Erza." kata Erza sambil menyalami Galih dan Fabian.

"Saya manusia." kata Galih.

"Saya juga." kata Fabian.

"Oh, dikirain hewan." kata Erza.

"Erza, jangan jahat kayak gitu." kata Rayhan.

"Jahat gimana? 'Kan aku cuma bercanda. Mereka juga gitu." kata Erza.

"Udah, udah, mereka memang suka bercanda. Sini, aku aja yang memperkenalkan mereka. Orang yang ini namanya Galih. Satunya lagi namanya Fabian." kata Fahri.

"Salam tempel! Eh, salam kenal." kata Galih.

"Salam kenal juga." kata Fabian.

"Oh, ya. Daripada ngobrol di dalam. Mendingan ngobrol aja di luar." kata Fahri.

"Boleh juga." kata Rayhan.

"Tapi, bentar. Aku mau bawa gitar dulu." kata Fahri.

"Oke." kata Ammar.

Fahri pun membawa gitarnya. Mereka pun pergi keluar pondok untuk menuju pinggir pantai.

"Alidza, kelihatannya Fahri itu baik, ya?" kata Erza sesampainya di pinggir pantai.

"Ya, kelihatan baik." kata Deiki.

"Ya, dari luarnya. Tapi, gitu-gitu juga dia agak aneh atau lebay." kata Alidza.

"Maksudnya?" tanya Erza.

"Dia pernah menasehati seseorang dengan tidak bersahabat. Maksudnya, dia pernah bilang gini ke seseorang, 'Kamu itu harus taubat sebelum kamu mati. Kamu nggak boleh mati dalam keadaan yang tidak baik. Lihat didepanmu, itu yang sering kamu minum 'kan? Miras ini 'kan? Tahu nggak? Ini tuh salah satu minuman yang bisa bikin kamu mati dengan keadaan yang tidak baik. Kamu nggak mau 'kan mati pas kamu lagi mabuk-mabukan? Mulai sekarang, kamu harus janji nggak akan bakal minum miras lagi, nggak bakal judi lagi, dan terus berbuat baik. Ngerti?' Dia juga ngomongnya dengan nada yang bikin orang nggak enak dengernya. Omongannya itu sangat menusuk. Terus, dia juga suka bersikap dingin kayak nggak peduli, sering teriak-teriak sendiri, dan masih banyak lagi. Katanya, lebih baik tidak ikut-ikutan dengan sesuatu yang nggak jelas. Terus juga, teriak-teriak bisa ngilangin stress. Aku bukannya pingin ikutan sama sesuatu yang nggak jelas. Tapi, cuma pingin ngebantu aja. Tapi, katanya nggak usah dibantu. Nanti kita jadi ikut-ikutan." kata Alidza.

"Tapi, gitu-gitu juga dia baik 'kan?" tanya Erza.

"Emang. Gitu-gitu juga dia masih baik. Masih mau nolongin orang. Masih mau nasehatin orang. Emang sih ada kelakuan aneh yang baik. Tapi, jangan ganggu orang gitu." kata Alidza.

Tidak jauh dari mereka bertiga, Rayhan, Fahri, Fabian, Galih, dan Ammar sedang duduk mengobrol.

"Dulu, di sini cuma ada pelabuhan. Tapi, orang-orang yang datang dari luar dan dalam negeri membuat perkampungan di sini. Akhirnya, kampung-kampung itu bersatu dan menjadi sebuah kota yang disebut dengan Kotabaru. Nama 'Perantauan' sebenarnya diambil dari rapat terbuka. Pada rapat itu, ada seseorang yang mengusulkan ditambah kata 'Perantauan' di belakang nama 'Kotabaru' karena semua penduduk kota itu berasal dari luar kota dan luar negeri." kata Fahri.

"Oh, gitu. Eh, kamu sering ke sini?" tanya Rayhan.

"Ya, pantai ini anginnya sepoi-sepoi. Bagus buat main gitar." jawab Fahri.

Sementara mereka berdua sedang asyik mengobrol, Galih sedang melamun memikirkan sesuatu.

"Galih, lagi mikirin siapa?" tanya Fabian.

"Bukan, bukan apa-apa." kata Galih.

"Ah, bilang aja mikirin yang biasa." kata Fabian.

"Ya, biasa." kata Galih.

Sementara itu, Fahri mulai memetik gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu.


Sahabat Kecil-Ipang

Baru saja berakhir

Hujan di sore ini

Menyisakan keajaiban

Kilauan indahnya pelangi

Tak pernah terlewatkan

Dan tetap mengaguminya

Kesempatan seperti ini

Tak akan bisa di beli



Bersamamu ku habiskan waktu

Senang bisa mengenal dirimu

Rasanya semua begitu sempurna

Sayang untuk mengakhirinya



Melawan keterbatasan

Walau sedikit kemungkinan

Tak akan menyerah untuk hadapi

Hingga sedih tak mau datang lagi



Bersamamu ku habiskan waktu

Senang bisa mengenal dirimu

Rasanya semua begitu sempurna

Sayang untuk mengakhirinya



Janganlah berganti

Janganlah berganti

Janganlah berganti

Tetaplah seperti ini



Janganlah berganti

Janganlah berganti

Tetaplah seperti ini



Tanpa Fahri sadari, orang-orang yang mendengar nyanyiannya begitu menikmatinya. Sampai-sampai mereka tak menyadari bahwa nyanyiannya telah selesai.

"Fahri, bagus amat permainan gitar kamu." puji Rayhan.

"Biasa aja." kata Fahri merendah.

"Kamu belajar dari mana?" tanya Rayhan.

"Belajar ke Paman Putra, musisi paling terkenal di kota ini." jawab Fahri.

Ketika mereka sedang mengobrol, tiba-tiba datang seseorang menghampiri mereka.

"Ada bajak laut! Ada bajak laut! Cepat pergi!" kata orang tersebut.

"Bajak laut?" tanya Fahri.

"Ya, mereka bajak laut terkenal. Sudah banyak kapal dan pelabuhan mereka jarah hartanya. Nama bajak laut mereka adalah 'Hiu Ganas'! Cepat lari!" kata orang tersebut.

"Ya ampun, dimana-mana hiu itu ganas. Nggak punya nama lain apa? Nggak kreatif amat." kata Fahri dalam hati.

"Majesty Alidza, ada bajak laut. Kita harus kumpulkan petugas sipil!" kata Fahri.

"Baik, Majesty Fahri!" kata Alidza.

"Erza, Deiki, ayo ikut aku!" kata Alidza.

"Ke mana?" tanya Erza.

"Ke menara darurat!" jawab Alidza.

Mereka pun pergi menuju menara darurat. Sesampainya di sana, Alidza memukul kentongan besar yang terdapat pada menara tersebut. Seluruh petugas sipil pun segera berkumpul di sekitar menara tersebut.

"Semua sudah berkumpul?" tanya Fahri.

"Sudah, majesty!" jawab mereka semua.

"Kalian sudah siap dengan senjata kalian?" tanya Fahri.

"Sudah, majesty!" jawab mereka semua.

"Baik, saya bagi kalian menjadi tiga kelompok besar. Satu kelompok bersama saya, satu lagi bersama Majesty Ammar, sisanya bersama Majesty Alidza. Mengerti?" tanya Fahri.

"Siap, mengerti!" jawab mereka semua.

Mereka pun langsung dibagi menjadi tiga kelompok besar dan menuju pemimpinnya masing-masing. Setelah itu, Alidza sebagai salah satu Majesty petugas sipil langsung menyuruh anggotanya menuju gudang senjata. Mereka membawa beberapa senjata artileri dari gudang itu. Setelah itu, mereka langsung berhdadapan dengan kawanan bajak laut. Pasukan yang dipimpin oleh Ammar sudah bersiap-siap akan menyerang kawanan bajak laut. Pasukan yang dipimpin oleh Fahri pun sudah siap. Fahri, Ammar, Alidza pun sudah memegang senjata mereka. Rayhan, Erza, Deiki, Fabian, dan Galih juga sudah siap dengan senjata mereka masing-masing.

Pertarungan pun dimulai. Para petugas sipil bersama ketiga pemimpinnya langsung menyerang anak buah bajak laut. Sedangkan Rayhan, Deiki, Erza, Fabian, dan Galih langsung mencari sang pemimpin bajak laut. Ternyata, sebelum mereka mencari sang pemimpin, mereka dihadang oleh beberapa anggota bajak laut.

"Tunggu! Kalian mau ke mana!? Apa kalian mau kabur!? Atau mau ketemu pemimpin kami!?" tanya seseorang di antara mereka.

"Kami mencari pemimpin kalian!" jawab Erza.

"Oh, berani amat kalian ini. Sebelum kalian lawan pemimpin kami, lawan kami dulu!" tantang mereka.

"Oke!" kata Deiki.

Terjadilah pertarungan lain yang lebih sengit. Erza, Rayhan, Deiki, Fabian, dan Galih harus melawan lima anggota bajak laut tersebut. Lima orang tersebut adalah orang-orang penting dalam bajak laut tersebut. Kelima orang itu ada yang sebagai koki, navigator, pemimpin penyerangan, penyusup, dan ahli mekanik kapal. Erza berhdapan dengan sang navigator, Rayhan berhadapan dengan sang koki, Deiki berhadapan dengan sang pemimpin penyerangan, Fabian berhadapan dengan sang penyusup, dan Galih berhadapan dengan ahli mekanik kapal. Mereka semua bertarung secara berpisah.

Pada awalnya, Erza tidak terlalu kesulitan melawan sang navigator. Tetapi, tiba-tiba serangan sang navigator menjadi lebih kuat dan lebih buas dari sebelumnya. Karena sudah berpengalaman melawan penjahat sebelumnya, ia lebih berhati-hati dalam melancarkan serangannya. Ia terus menghindar dari serangan lawannya.

Pada saat yang bersamaan, Rayhan harus menghadapi serangan maut dari sang koki yang ahli memainkan banyak pedang. Rayhan hanya bisa berlari dan menghindar. Sementara itu, sang koki terus menyerang tanpa henti.

"Sabetan Tsunami Maut!" teriak sang koki sambil mengeluarkan jurusnya.

Rayhan berhasil menghindari serangan maut tersebut.

"Masih bisa menghindar, ya? Putaran Ombak Laut!" sang koki menyerang Rayhan.

Lagi-lagi Rayhan bisa menghindar.

"Gigitan Hiu!" sang koki menyerangnya kembali.

Rayhan berhasil menghindarinya lagi.

"Kali ini kau akan mati! Lihat saja, Jurus Badai Laut Kematian!" sang koki menyerangnya kembali.

Serangannya kali ini begitu cepat. Sampai-sampai Rayhan tidak bisa menghindar kembali. Ia hanya bisa bertahan dari serangan yang berputar-putar seperti ombak itu.

"Hantaman Ombak!" sang koki menyabet bahu Rayhan.

"Aaah! Sakiiit!" teriak Rayhan sambil meringis kesakitan.

Rayhan pun berdiri kembali sambil memegangi bahunya yang luka. Tiba-tiba, sang koki menyerangnya dari atas. Rayhan yang sedang tidak memegang pedang langsung berlari menghindari serangan tersebut. Kini, Rayhan terpojok. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tenaganya mulai habis. Ia pun tidak sanggup untuk berdiri lagi.

Sementara itu, Fabian dan Galih pun terpojok. Lawan yang mereka hadapi benar-benar kuat. Mereka hanya bisa bertahan saja.

Sedangkan yang lain dalam keadaan terpojok, Deiki bisa memojokkan lawannya. Kini, ia tinggal menghabisi sang pemimpin penyerangan. Tetapi, sebelum ia menghabisinya, bahu kanannya langsung ditusuk oleh lawannya. Deiki pun membalas menyerang sambil menahan sakitnya. Tetapi, ia langsung ditusuk lagi oleh lawannya. Kali ini, keadaannya telah berbalik. Deiki yang awalnya memojokkan lawannya sekarang dipojokkan oleh lawannya.

"Hahahahaha! Inilah akhir riwayatmu! Setelah kubunuh kamu, aku akan makan jantungmu langsung! Gwahahahahahaha!" kata sang pemimpin penyerangan.

"Hah, hah, aku... nggak akan... mati... begitu... saja... Aku... kalau masih... sanggup... berdiri... aku... akan... menghabisimu... tanpa... ampun... Hah, hah..." kata Deiki dengan nafas terengah-engah.

Sang pemimpin penyerangan langsung menginjak perut Deiki. Mulut Deiki langsung mengeluarkan darah.

"Hei, lemah! Jangan belagu seperti itu dihadapanku. Kamu belum tahu siapa aku 'kan?" tanya sang pemimpin penyerangan.

"Jangan pikir aku nggak tahu. Aku tahu siapa kamu. Kamu adalah pemimpin penyerangan dari kawanan bajak laut 'Hiu Ganas', bajak laut yang terkenal di seluruh lautan. Semua pelabuhan yang dijarah itu kamu yang mimpin. Aku tahu itu." jawab Deiki.

"Tahu banyak juga, kamu." puji sang pemimpin penyerangan.

"Kali ini, kamu nggak akan bisa ngomong banyak lagi! Rasakan! Tusukan Laut!" sang pemimpin penyerangan menyerang Deiki.

Tiba-tiba, dari belakang sana, melesat beberapa anak panah yang mengarah pada sang pemimpin penyerangan.

"JREB!" punggung dan kepala sang pemimpin penyerangan terkena panah beracun.

"GWAAAAAH! SAKIIIIIIIIT! APA-APAAN INI!? AMPUUUUUN!!! TUBUHKU SEPERTI TERBAKAR!!! AMPUUUUUN!!!" teriak sang pemimpin penyerangan.

Sang pemimpin penyerangan rubuh seketika. Tubuhnya tidak bisa bergerak lagi. Mulutnya berbusa. Mukanya menjadi pucat. Matanya menjadi putih. Nafasnya berhenti. Ia pun tewas.

Deiki yang tidak bisa bergerak lagi bersyukur karena lawannya telah tewas. Tetapi, ia penasaran. Siapakah yang telah membunuh lawannya itu? Ia ingin mencari tahu. Tetapi, ia tidak bisa bergerak sama sekali.

Sementara itu, Erza pun tak bisa bergerak lagi. Lawannya memang sudah terluka. Tetapi, ia lebih terluka lagi. Lukanya tersebut membuatnya tidak bisa bergerak lagi.

"Rasakan ini, makhluk lemah! Tusukan Ombak Laut!" sang navigator menyerangnya kembali.

Tiba-tiba, melesatlah sebuah berlian biru cerah yang sangat tajam ke arah kepala sang navigator.

"JLEB!" berlian tersebut menembus kepala sang navigator.

Kepala sang navigator langsung mengucurkan darah segar yang sangat banyak. Ia pun langsung tewas seketika. Erza bersyukur bisa selamat dari serangan maut lawannya. Kemudian, Erza didatangi oleh Alidza.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Alidza.

"Ya, nggak apa-apa. Cuma luka saja." jawab Erza.

"Sebentar lagi bakal datang petugas medis nolongin kamu. Tahan dulu sakitnya sebentar." kata Alidza.

"Ya. Makasih. Maaf udah ngerepotin" kata Erza.

"Nggak apa-apa. Justru aku harusnya yang bilang makasih." kata Alidza.

Erza menatap berlian tersebut lalu menanyakannya kepada Alidza.

"Alidza, itu berlian kamu dapat dari mana?" tanya Erza.

"Aku, Fahri, dan Ammar dapat berlian itu dari seorang penasehat kerajaan. Katanya, berlian itu nggak boleh hilang sampai ada yang nyari berlian itu lagi." jawab Alidza.

"Oh, gitu." kata Erza.

Sementara itu, Fabian telah berhasil mengalahkan lawannya dengan memanfaatkan kelengahan lawannya. Tetapi, Galih masih terpojok oleh lawannya. Sekarang, ia masih tersungkur di tanah dan tidak mampu berdiri kembali.

"Sepertinya, ini akhir riwayatmu. Sayang sekali." kata sang mekanik kapal.

Galih tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa mendengar perkataan lawannya saja.

"Tunggu, kalau ini akhir hidupku, berikan aku waktu sebelum kamu membunuhku." kata Galih.

"Silakan." kata sang mekanik kapal.

Galih mengeluarkan kertas yang ia anggap sebagai kertas istimewa. Ia membuka lipatan-lipatan kertas itu dan memandanginya. Isi kertas itu rahasia. Hanya ia dan teman-temannya saja yang tahu isi kertas tersebut. Ia membelai kertas itu dengan lembut. Air matanya menetes dan membasahi pipinya.

"Maafkan aku. Aku tidak bisa hidup lebih lama lagi. Aku akan segera pergi ke alam sana. Selamat tinggal." bisik Galih.

"Aah! Jangan lama-lama! Apaan juga ini!? Nggak ada gunanya!" kata sang mekanik kapal sambil menarik kertas tersebut.

"Aaaaah..." kata Galih.

"Sepertinya kertas ini memang benar-benar berharga. Tapi, bagiku kertas ini seperti sampah! Nggak ada gunanya! Cuma gambar gini doang!? Dielus-elus lagi! Kertas jelek gini disebut berharga! Ini lebih baik kurobek dan kuinjak-injak!" kata sang mekanik kapal.

Ia merobek kertas tersebut dan menginjak-injaknya. Galih yang melihat perbuatan tersebut langsung geram. Ia pun langsung bangkit. Ia langsung mencabut pedang rahasianya. Pedang tersebut adalah Pedang Pesisir, sebuah pedang yang dibuat dengan cara khusus. Konon katanya, pedang tersebut dapat membelah pohon yang besar dan kuat dengan sekali tebas.

Galih langsung menghadapi sang mekanik kapal.

"Kau! Berani-beraninya merusak kertas kesayanganku! Bersiaplah untuk mati!" kata Galih.

Galih langsung menyerang sang mekanik kapal dengan sekali tebas. Sang mekanik kapal terkejut dengan serangan Galih yang mendadak. Ia pun tidak bisa berbuat apa-apa dan tubuhnya langsung terbagi dua. Ia pun tewas seketika.

Dengan perjuangan yang berat, akhirnya kawanan bajak laut berhasil dikalahkan. Galih langsung terjatuh dan pingsan. Fabian pun terduduk lemas. Deiki terluka parah. Erza tak bisa bergerak dan terluka parah. Rayhan terluka parah pada lengannya sedangkan lawannya sudah dikalahkan oleh Alidza.

Sementara itu, Fahri, Alidza, dan Ammar telah berhasil mengalahkan sang pemimpin. Mereka pun memanggil petugas medis dan membawa orang-orang yang terluka ke pondok pengobatan. Sementara Erza dan teman-temannya yang terluka sedang dirawat, Fahri, Ammar, dan Alidza sedang mengobrol di lorong pondok pengobatan.

"Untung aku punya Pedang Badai yang aku bawa dari luar negeri. Aku jadi gampang ngalahin semua anak buah bajak laut itu." kata Fahri.

"Emangnya apa istimewanya?" tanya Ammar.

"Pedang ini dibuat dengan cara khusus, yaitu membuat pedang menjadi sangat tipis dan tajam. Pedang ini bisa menembus tembok dan apa pun yang ada di dalamnya dengan sekali tusuk. Pedang ini pun bisa membelah kapal pesiar dengan sekali tebas. Pedang ini mahal harganya. Sampai-sampai aku harus kerja lebih lama biar bisa beli ini." kata Fahri.

"Ngomong-ngomong, senjata kamu canggih juga, ya?" kata Fahri.

"Ya, ini pedang lipat. Banyak senjata dalam pedang ini. Ada kapak, ada pisau, ada pedang ukuran kecil, ada macam-macam senjata lainnya. Aku juga masih punya senjata lainnya." kata Alidza.

"Oh, ya. Makasih udah buatin senjata aku." kata Ammar.

"Sama-sama, Majesty Ammar." kata Alidza.

"Ayo, kita salaman Majesty." kata Fahri.

"Salam! Majesty Fahri dan Majesty Ammar." kata Alidza.

"Salam! Majesty Ammar dan Majesty Alidza." kata Fahri.

"Salam! Majesty Fahri dan Majesty Alidza." kata Ammar.

Mereka pun mengobrol sampai sore. Setelah itu, mereka pun pulang ke pondok mereka kembali. Mereka yang masih terluka dibiarkan di pondok pengobatan. Mereka telah mempercayakan semuanya kepada pihak sana.

Senja telah tiba. Matahari mulai terbenam. Sinar lembayungnya menyinari pinggir pantai kota itu. Terlihat pemandangan yang indah bercampur tragis di pantai itu. Pantai itu masih sepi dari penduduk. Mayat-mayat pun masih bergeletakan. Bau amis mulai tercium. Para petugas medis mulai mengangkut mayat-mayat tersebut. Di pantai yang indah itu telah terjadi pertempuran yang sangat sengit. Benar-benar pertarungan yang menguras tenaga, keringat, dan darah. Peristiwa itu akan terus teringat sampai kapanpun dan m

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya