13. Kerinduan dan Penculikan
Mata Erza perlahan-lahan terbuka. Ia pun sadarkan diri. Ketika ia melihat sekelilingnya, ia langsung bingung. Ketika ia melihat sekelilingnya, tiba-tiba perawat masuk ke dalam kamarnya.
"Sudah sadar, ya?" tanya perawat itu.
"Aku ada di mana?" tanya Erza.
"Ini di pondok pengobatan. Kamu tidak sadar selama beberapa hari." kata perawat itu.
"Mana yang lainnya?" tanya Erza.
"Teman-temanmu? Mereka dirawat di kamar lain." jawab perawat itu.
"Oh, syukurlah. Semuanya baik-baik saja 'kan?" tanya Erza.
"Ya, mereka sudah agak baikan." jawab perawat itu.
Ketika mereka sedang mengobrol, Fahri, Alidza, dan Ammar datang ke kamar Erza.
"Erza, kamu udah sadar?" tanya Ammar.
"Ya, iyalah. Gimana sih kamu? Udah jelas gitu dia bangun. Masih nanya lagi." kata Fahri.
"Udah, Fahri. Jangan kayak gitu." kata Alidza sambil menenangkan Fahri.
"Oh, ya, saya keluar dulu. Silakan mengobrol." kata perawat itu. Ia pun keluar dari kamar itu.
"Alidza, kamu bawa berlian yang kemarin?" tanya Erza.
"Ya. Kamu mau lihat?" tanya Alidza.
"Ya." jawab Erza.
Alidza mengeluarkan berlian itu dari kantungnya dan memberikannya kepada Erza. Dilihatnya berlian biru cerah yang sangat berkilauan. Berlian itu bercahaya jika terkena sinar.
"Ini yang aku cari. Boleh aku ambil berlian ini?" tanya Erza.
"Tunggu, kamu nyari ini?" Alidza bertanya balik.
"Ya, aku nyari ini." jawab Erza.
Alidza teringat dengan perkataan seseorang.
"Jika nanti ada orang yang make syal biru seperti ini, terus dia nyari berlian ini, tolong dikasih." kata orang tersebut.
Setelah ia ingat, ia bertanya kepada Erza.
"Kamu punya syal biru yang gambarnya cermin bersayap?" tanya Alidza.
Erza mengeluarkan syalnya dari sakunya dan diperlihatkan kepada Alidza.
"Wah, aku juga punya yang kayak gitu." kata Fahri.
"Aku juga punya." kata Ammar.
"Aku juga." kata Alidza.
"Fabian sama Galih juga punya." kata Alidza.
"Jadi, kamu ini siapa?" tanya Fahri.
"Aku, pangeran kerajaan negeri ini." jawab Erza.
"Nggak mungkin. Masa' pangeran bisa keluyuran sampai sini tanpa dijaga siapa-siapa? Yang bener aja." kata Fahri tidak percaya.
"Bener. Aku pangeran." kata Erza.
"Bohong kamu. Jangan bercanda." kata Fahri.
"Ih, beneran! Kalau nggak percaya, tanya aja sama Rayhan dan Deiki." kata Erza.
"Tunggu. Fahri, kayaknya bener dia pangeran. Masih inget nggak waktu penasehat kerajaan ngomong sama kita? Kalau ada orang yang punya syal itu, terus dia nyari berlian kita, berarti dia itu orang kerajaan. Bisa aja dia prajurit, koki, penjaga, pengawal, pangeran, atau raja!" kata Alidza mengingatkan.
"Oh, iya, ya." kata Fahri.
"Berarti, di istana lagi kacau, ya?" tanya Fahri kepada Erza.
"Ya. Tahta kerajaan yang harusnya turun ke aku malah direbut. Terus, aku diasingkan." kata Erza.
"Ya udah. Sesuai pesan penasehat kerajaan, kami, termasuk Galih dan Fabian ikut denganmu." kata Fahri.
"Benarkah? Terima kasih." kata Erza.
"Sama-sama." kata Fahri.
"Nah, sekarang, tinggal nunggu kamu sama teman kamu sembuh. Udah gitu, beres deh. Kita langsung berangkat." kata Fahri.
"Oke!" kata Erza.
Setelah beberapa hari kemudian, akhirnya Erza, Galih, Fabian, Rayhan, dan Deiki sudah sembuh dan dapat beraktivitas kembali dengan normal. Mereka pun diperbolehkan untuk pulang. Mereka lalu keluar dari pondok pengobatan dan langsung dijemput oleh Fahri, Alidza, dan Ammar.
"Ayo naik. Kita pulang ke pondok." ajak Fahri.
"Oke! Sampai di pondok kita ngapain?" tanya Galih kepada Fabian.
"Nggak tahu." jawab Fabian.
"Ya udah, kita pulang aja dulu." kata Erza.
"Ya, aku udah bosen di sini." kata Deiki.
"Ya, langsung aja kita pulang." kata Rayhan.
"Eh, tunggu! Kita juga pingin pulang!" kata Fabian dan Galih.
Mereka pun pulang ke pondok mereka. Sepanjang perjalanan, Galih terlihat sedih. Rupanya, kertas berharganya telah dirobek. Sambil memandangi lautan yang begitu luas, ia memikirkan seseorang yang berada jauh di sana. Ia teringat dengan kata-kata terakhir orang tersebut sebelum mereka berpisah.
"Galih, di manapun kau berada, tetap ingat aku. Tetap ingat kampung halamanmu. Kembalilah ke sini sekali-kali. Aku akan menunggumu." kata orang tersebut.
Tanpa sadar, air matanya mulai membasahi pipinya. Ia terus memandangi lautan yang begitu luas. Ia menyesal karena tidak pernah kembali ke kampung halamannya. Kertas berharganya yang ia dapat dari orang tersebut sudah dirobek. Padahal, kertas itu harus benar-benar dijaga. Di tengah lamunannya, ia dikagetkan oleh Fabian.
"Kenapa kamu?" tanya Fabian.
"Nggak, nggak apa-apa." jawab Galih.
Galih melanjutkan lamunannya kembali. Tanpa ia sadari, gerobak yang ia naiki berbelok menjauh dari pantai. Pemandangan laut pun tak dapat ia lihat lagi. Ia pun semakin sedih. Diambilnya kerang pemberian orang tersebut. Kerang tersebut bertuliskan "Jagalah Dirimu". Ia pun semakin sedih. Hatinya mulai gundah. Apakah ia baik-baik saja? pikirnya. Tanpa ia sadari, gerobak yang ia tumpangi sudah sampai di depan pondok. Tetapi, gerobak yang ia tumpangi dicegat oleh seseorang.
"Tunggu!" teriak seseorang.
"Siapa itu?" tanya Fahri.
"Saya temannya Galih. Yatta!" jawab orang tersebut.
"Oh, Yatta. Apa apa? Tumben kamu ke sini." tanya Fahri.
"Sepupu aku diculik! Makanya, aku ke sini minta bantuan kalian." jawab Yatta.
Tiba-tiba, datang beberapa orang menyusul Yatta.
"Abang, jangan cepet-cepet." kata salah seorang di antara mereka.
"Ya, Yatta. Jangan ninggalin kita." kata salah seorang yang lainnya.
"Yatta, kamu tuh jangan terlalu terburu-buru. Kasian yang di belakang." kata salah seorang yang lain.
"Maaf, maaf." kata Yatta.
"Eh, Nabil. Apa kabar, bil?" tanya Fahri.
"Baik." jawab orang tersebut.
"Siapa aja yang ada di belakang kamu?" tanya Fahri.
"Oh, ini. Kenalkan, ini Ayang, Dede, Diyyah, Nabil, dan Rendy." kata Yatta sambil memperkenalkan mereka semua.
"Salam kenal." kata mereka semua.
"Salam kenal juga." balas Fahri.
"Oh, ya. Langsung aja, Fahri, cepet beres-beres terus kita pergi ke pelabuhan. Kita pergi ke tempat aku malam ini." kata Yatta.
"Kenapa harus malam?" tanya Fahri.
"Kapal yang bisa ke sana cuma ada malam ini aja." kata Yatta.
"Ya udah, kita mau beres-beres dulu." kata Fahri.
"Oh, ya. Galih mana?" tanya Yatta.
"Ada, nih. Lagi ada di sini. Woi, Galih, ada Yatta tuh." kata Fahri.
Galih tetap sedih sambil menekuk lututnya.
"Woi, ada apa Galih?" tanya Fahri.
"Tunggu, biar aku naik ke gerobak." kata Yatta.
Yatta pun naik ke gerobak. Dihampirinya Galih yang sedang sedih.
"Galih, kamu kenapa?" tanya Yatta.
"Nggak apa-apa." jawab Galih.
"Udah, bilang aja. Apa kamu inget ama orang itu?" tanya Yatta.
Galih mengangguk.
"Galih, kamu harus kuat menerima kabar ini." kata Yatta.
"Apa?" tanya Galih.
"Dia diculik dan aku nyari bantuan ke sini. Kamu mau 'kan ikut ngebantu aku?" tanya Yatta.
Galih mengangguk.
"Nah, sekarang, jangan kayak gitu. Nanti gimana kalau dia ngeliat kamu kayak gini? Dia kecewa 'kan? Makanya, jangan gini. Bangkit! Kita akan nyelamatin dia!" kata Yatta sambil menyemangati Galih.
"Oke!" kata Galih sambil menyeka air matanya.
"Oke, aku turun dari sini. Jangan lupa nanti malam!" kata Yatta.
"Oke!" kata Fahri.
Yatta dan teman-temannya pergi ke tempat mereka beristirahat. Sementara itu, Fahri, Erza, dan teman-temannya sedang beres-beres untuk pergi ke pelabuhan. Mereka juga beres-beres untuk pergi berkelana.
Akhirnya, malam pun tiba. Fahri dan teman-temannya siap untuk pergi ke pelabuhan. Pondok mereka sudah dikosongkan dan kuncinya sudah diberikan kepada pemilik pondok. Mereka pun mengundurkan diri dari pimpinan pasukan petugas sipil dan berpamitan. Setelah itu, mereka langsung pergi menuju pelabuhan.
Jantung Galih berdegup kencang. Ia mengepalkan tangannya keras-keras. Ia bertekad untuk menyelamatkan sepupu Yatta bagaimanapun caranya. Sementara itu, Fabian, Fahri, dan Ammar berusaha menenangkannya.
Akhirnya, mereka pun sampai di pelabuhan. Di sana, Yatta dan teman-temannya sudah menunggu.
"Sudah siap?" tanya Yatta.
"Sudah." jawab Fahri.
"Kalau gitu, kita akan naik kapal yang besar itu." kata Yatta sambil menunjuk sebuah kapal.
Yatta, Fahri, beserta teman-teman mereka memasuki kapal tersebut. Gerobak yang mereka bawa mereka bawa juga ke dalam kapal. Mereka pun duduk di kursi penumpang. Dengan hati yang gugup, Galih berkata dalam hatinya.
"Aku akan segera menyelamatkanku. Tunggu saja." kata Galih dalam hati.
Komentar
Posting Komentar