17. Mundur dengan Terhormat
Pada suatu malam, di sebuah pulau, terdapat dua orang sedang berjalan menuju suatu tempat.
"Woi, a, apa ng, nggak apa-apa... kita pergi... ke... sana...?" tanya orang tersebut.
"Udah, nggak apa-apa. Jangan penakut kayak gitu." kata temannya.
Mereka berdua memasuki sebuah tempat yang besar.
"Apa... nggak apa-apa?" tanya orang tersebut.
"Ih, udah dibila..." temannya tidak melanjutkan perkataannya lagi.
Tiba-tiba, sebuah kapak raksasa mengayun ke arah mereka berdua. Mereka pun merunduk. Tetapi, dari arah samping mereka, sebuah tombak meluncur ke arah mereka. Mereka pun melompat menghindari tombak tersebut. Tiba-tiba, dari atas mereka, sebuah batu besar akan menimpa mereka.
"Gawat!" kata orang tersebut.
"Tidak!" teriak temannya.
Mereka pun tewas tertimpa batu besar tersebut. Lalu, pada pagi harinya, mayat mereka berdua sudah ada di pinggir pantai pulau tersebut. Keadaan kedua mayat tersebut sudah penyek karena tertimpa batu besar. Tiba-tiba, seekor elang menyambar kedua mayat tersebut. Kedua mayat pun dibawa oleh elang tersebut untuk dimakan.
Sementara itu, keadaan di markas petugas keamanan bagian timur sedang ramai. Para petugas keamanan sedang mengerumuni seseorang. Ternyata, mereka semua sedang mengerumuni Andri, Hadi, dan Oji. Mereka semua ingin mendengar cerita pertarungan mereka bertiga melawan kelompok penculik yang terkenal dengan kekejamannya itu.
"Tiba-tiba, si bosnya kabur sambil bawa korban culikannya.Terus, kita bertiga ngejar si bosnya. Tau-taunya, ada yang ikutan ngejar bos juga. Akhirnya, kita bolehin dia ikut sama kita. Waktu kita lagi ngejar si bosnya, tiba-tiba, bla, bla, bla, bla, bla, bla..." Oji menceritakan pertarungan kemarin dengan panjang lebar.
"Udah, udah. Kembali kerja!" perintah Andri.
Semua petugas keamanan langsung kembali bekerja. Oji yang belum selesai bercerita langsung kesal.
"Dri! Kalau aku yang cerita, kamu langsung bubarin semuanya. Kalau giliran kamu yang cerita, semuanya harus denger. Gimana sih!?" kata Oji kesal.
"Udah, kerja sana!" kata Andri.
"Eh, nggak bisa gitu! Kamu suka gitu terus ke aku. Nggak adil! Nanti aku laporin ke pengadilan hak asasi!" ancam Oji.
"Laporin aja!" kata Andri santai.
"Kurang ajar nih orang!" Oji langsung menarik kerah Andri dan memukulnya. Andri pun membalas memukul Oji. Mereka pun berkelahi di depan semua bawahannya. Semua bawahannya hanya menonton perkelahian mereka saja. Yatta, Nabil, dan Fahri yang ikut melihat kejadian tersebut tertawa terbahak-bahak.
"Kacau amat tuh kepala petugasnya!" kata Nabil sambil tertawa.
"Bener tuh! Bukan contoh yang baik!" kata Yatta sambil tertawa.
"Pasti dia nyogok yang milihnya biar bisa jadi kepala petugas." kata Fahri dengan ekspresi dinginnya.
"Nusuk amat omongan kamu, Ri!" kata Nabil kepada Fahri.
"Biasa aja!" kata Fahri.
Akhirnya, beberapa lama kemudian, mereka berhenti berkelahi dan kembali bekerja. Semua petugas keamanan pun kembali bekerja. Kejadian yang seperti langsung terlupakan begitu saja. Sebenarnya, mereka berdua sudah sering berkelahi. Baik di saat pagi, siang, sore, bahkan malam hari. Tetapi, setelah mereka berhenti berkelahi, mereka langsung melupakan kejadian itu begitu saja. Benar-benar aneh.
Andri pun segera menuju ruang kerjanya. Sesampainya di sana, ia langsung membuka sebuah peta. Ia pun membuka lacinya yang penuh dengan laporan-laporan. Ia mengambil beberapa laporan dan membacanya. Setelah itu, ia langsung menandai sebuah pulau di petanya. Pulau yang ditandainya adalah Pulau Pasir Hitam.
Sementara itu, Erza sedang mengobrol dengan Yatta.
"Yat, kamu punya syal kayak gini?" tanya Erza sambil menunjukkan syalnya.
"Ya. Temen-temen aku juga punya." jawab Yatta.
"Kalau gitu, mau gabung sama aku?" tanya Erza.
"Buat apa?" Yatta bertanya balik.
"Buat ngerebut lagi tahta kerajaan." jawab Erza.
"Tunggu, ngerebut lagi tahta kerajaan? Emang kamu siapa?" tanya Yatta.
"Aku, kalau aku jawab pasti kamu nggak percaya." kata Erza.
"Maksudnya?" tanya Yatta.
"Ya, pasti kamu nggak akan percaya." jawab Erza.
"Kalau kamu bilang gitu, pasti kamu dulunya pencuri!" duga Yatta.
"Bukan." kata Erza.
"Kalau gitu, peramok!" duga Yatta kembali.
"Bukan." kata Erza.
"Kalau gitu, pembunuh!" duga Yatta untuk yang ketiga kalinya.
"Bukan." kata Erza.
"Kalau gitu..." kata Yatta.
"Aku pangeran!" kata Erza.
"Apa? Pangeran?" Yatta tidak percaya.
"Tuh, 'kan? Gak percaya." kata Erza.
Yatta terdiam sejenak. Ia pun berusaha mengingat sesuatu. Setelah beberapa lama ia mengingat-ingat, tiba-tiba, ia teringat pada suatu pesan dari seorang penasehat kerajaan.
"Kalau ada orang yang punya syal kayak gini juga, terus dia ngajak kamu ikut sama dia, berarti dia adalah utusan kerajaan. Kalau sampai terjadi kejadian kayak gitu, berarti kerajaan sedang ada masalah." kata orang tersebut.
Tiba-tiba, ketika ia sedang mengingat pesan tersebut, tiba-tiba, Erza menyadarkannya.
"Yatta! Yatta! Sadar woi!" kata Erza.
"Oh, iya, iya." kata Yatta.
"Kamu kenapa?" tanya Erza.
"Nggak apa-apa. Oh, ya, aku sama temen-temen aku ikut gabung sama kamu." kata Yatta.
"Hore!" Erza berteriak sekencang-kencangnya. Sampai-sampai mengagetkan semua petugas keamanan yang berada di sekitarnya.
"Makasih, Yatta!" kata Erza kegirangan.
"Sa, sama-sama." kata Yatta.
Erza langsung mengelilingi lapangan markas petugas keamanan. Semua yang melihatnya, termasuk Yatta, langsung mengernyitkan dahi. Mereka semua terheran-heran. Ada apa dengan Erza? pikir mereka.
Tiba-tiba, Andri menghampiri Erza yang sedang berkeliling markas sambil kegirangan.
"Woi! Ngapain kamu keliling lapangan? Kayak orang aneh aja!" kata Andri.
"Oh, ya, kamu punya syal biru kayak gini?" tanya Erza sambil menunjukkan syalnya.
"Oh, ya, ya. Aku punya syal kayak gitu." jawab Andri.
"Ah, apa kamu utusan kerajaan yang nyari aku, Oji, ama Hadi buat gabung sama kamu?" tanya Andri.
"Ya, aku pangeran." jawab Erza.
"Apa!? Pangeran!?" Andri tidak percaya.
"Ya, aku pangeran." kata Erza.
"Salam hormat dari saya." kata Andri sambil melepaskan topinya dan menundukkan kepalanya.
"Apa kamu mau ikut aku?" tanya Erza.
"Tentu saja. Aku, Hadi, dan Oji akan ikut membantu membereskan masalah di kerajaan. Oh, ya, ada masalah apa di kerajaan?" tanya Andri.
"Tahta kerajaan direbut paksa." jawab Erza.
"Maksudnya?" tanya Andri.
"Harusnya aku yang meneruskan tahta ayahku yang sudah wafat. Tetapi, adik ayahku mengasingkan aku!" jawab Erza dengan kesal.
"Baik! Saya akan membantu anda merebut kembali tahta anda!" kata Andri.
"Oke, oke. Tapi, ngomongnya jangan gitu. Biasa aja, kayak kamu ngomong sama temen kamu." kata Erza.
"Oh, ya, ya. Oke." kata Andri.
"Oh, ya, kamu dikasih baju cadangan pas diasingin? Kok nggak compang-camping sih?" tanya Andri.
"Emangnya kalau orang diasingin harus compang-camping?" tanya Erza.
"Enggak aja. Biasanya 'kan suka gitu." jawab Andri.
"Baju yang ini dikasih sama bapak yang aku temuin di hutan tempat aku diasingin." kata Erza.
"Oh, gitu." kata Andri.
"Oh, ya, kamu berkelana, ya?" tanya Andri.
"Ya." jawab Erza.
"Kalau gitu, sambil ikut kamu, aku pingin ke suatu tempat." kata Andri.
"Ke mana?" tanya Erza.
"Ke Pulau Pasir Hitam. Katanya, di sana ada istana tua yang sangat besar. Konon, di istana itu ada harta karun. Banyak orang yang pergi ke sana untuk mencari harta karun itu. Tapi, semua orang yang pernah masuk ke sana, nggak pernah ada yang keluar dari sana. Pernah tiba-tiba ada mayat orang di pinggir pantai. Mayat itu ditemuin sama nelayan yang singgah di sana buat makan pagi." kata Andri.
"Jadi, kamu mau coba pergi ke sana?" tanya Erza.
"Ya." jawab Andri.
"Ya udah, besok kita langsung pergi. Jangan lupa bawa perbekalan yang banyak. Habis dari sana, kita langsung berkelana." kata Erza.
"Oh, oke!" kata Andri.
Setelah itu, Andri langsung kembali ke ruang kerjanya. Ia pun membereskan barang-barang yang akan dibawanya sebagai perbekalan. Setelah persiapannya telah selesai, ia langsung memanggil Hadi dan Oji dan menyuruh mereka berdua untuk membereskan barang-barang yang akan mereka bawa untuk perjalanan jauh. Mereka berdua langsung membereskan barang-barang yang akan mereka bawa. Setelah persiapan mereka telah selesai, mereka kembali bekerja.
Sementara itu, Erza menyuruh Yatta untuk menyuruh teman-temannya membereskan barang-barang yang akan mereka bawa untuk perjalanan jauh. Setelah itu, Yatta langsung memanggil teman-temannya dan menyuruh mereka untuk membereskan barang-barang yang akan mereka bawa untuk perjalanan jauh.
Malam harinya, Andri, Oji, dan Hadi berkumpul di suatu ruangan. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu yang serius.
"Eh, besok kita keluar dari petugas keamanan." kata Andri.
"Eh, kenapa?" tanya Oji.
"Kita 'kan mau ikut Erza. Nah, makanya kita harus keluar dari pekerjaan kita yang sekarang." kata Andri.
"Tapi..." kata Oji.
"Udah, nggak apa-apa. Kita tolongin Erza yang tahtanya direbut sama adik ayahnya." kata Andri.
"Betul itu! Kita 'kan kepala petugas keamanan, kalau kita bantu Erza, maka harga diri kita bisa ikut terangkat kalau kita berhasil ngebantu dia." kata Hadi.
"Tuh! Hadi aja ngomong gitu!" kata Andri.
"Ya, tapi gimana, ya?" kata Oji sambil ragu-ragu.
"Udah, kita keluar dari petugas keamanan aja. Lagipula, kita 'kan masih bisa ngebantu Erza. Jadi, pengamalan sebagai petugas keamanan masih bisa diamalkan." kata Andri.
"Ba, baiklah." kata Oji.
Akhirnya, mereka bertiga sepakat bahwa mereka akan mengundurkan diri dari petugas keamanan, walaupun Oji harus menerimanya dengan berat hati.
Pada pagi harinya, Andri, Oji, dan Hadi mengumpulkan semua bawahannya di lapangan.
"Harap tenang semuanya!" kata Andri.
Semua yang berkumpul di sana langsung tenang.
"Hari ini, kami bertiga akan mengumumkan sesuatu." kata Andri.
Mereka semua langsung ribut.
"Ya, harap tenang semuanya!" kata Andri.
Semua yang berkumpul di sana langsung tenang kembali.
"Kami akan mengumumkan sesuatu yang sangat berat untuk diterima oleh semuanya."
Semua yang berkumpul di sana mulai penasaran.
"Kami, dengan terhormat, mengundurkan diri dari petugas keamanan bagian timur dengan alasan darurat." kata Andri.
Semua yang berkumpul di sana langsung ribut kembali.
"Harap tenang semuanya! Saya akan memilih tiga orang pengganti kami." kata Andri.
Andri pun memanggil tiga orang yang dipilih sebagai kepala petugas keamanan yang baru. Setelah itu, Andri, Oji, dan Hadi mengucapkan kata-kata perpisahan. Kemudian, semua bawahan mereka menyalami mereka bertiga. Setelah selesai, mereka bertiga langsung menaiki burung camar raksasa yang kemarin mereka tunggangi.
"Selamat tinggal semuanya!" kata Andri.
"Sampai jumpa lagi! Kami akan merindukan kalian!" teriak semua mantan bawahan mereka.
"Hah, akhirnya, kita berpetualang." kata Andri.
"Eh, Andri, enak juga naik ini." kata Erza.
"Siapa dulu dong! Andri gitu lho!" kata Andri bangga.
"Sombong!" kata Oji.
"Udah, jangan sirik, ji. Orang sirik tandanya nggak mampu." kata Andri.
Mereka semua tertawa.
Sekarang, Erza bersyukur karena sudah mendapatkan beberapa orang terpilih. Walau masih banyak, Erza yakin ia dapat mengumpulkan semua orang tersebut. Erza pun semakin kuat mentalnya menghadapi sulitnya tantangan yang dihadapinya. Sekarang, Erza dan teman-temannya sedang menuju pulau misterius, Pulau Pasir Hitam.
Sementara itu, Pak Acep sedang memikirkan nasib Erza.
"Erza, sudah berapa banyak orang yang berhasil kamu kumpulkan?" tanya Pak Acep dalam hati.
"Semoga kamu bisa mengumpulkan semua orang tersebut." kata Pak Acep dalam hati.
Komentar
Posting Komentar