26. Penjelajahan

Penjelajahan

Akhirnya, seminggu pun berlalu. Hari ini, penjelajahan akan segera dimulai. Gudang markas klub penjelajah alam sudah mulai dipenuhi banyak orang. Orang-orang ingin melihat keberangkatan kapal yang belum pernah ada sebelumnya itu. Para anggota klub penjelajah alam, Erza dan teman-temannya, beberapa orang yang diundang, dan para wartawan sudah berada di atas kapal. Penjelajahan akan segera dimulai.

"Nyalakan api!" teriak sang pemimpin penjelajahan. Beberapa anggota klub penjelajah alam itu langsung menyalakan api. Balon udara pun mulai mengembang. Perlahan-lahan kapal itu mulai melayang. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu terkagum-kagum menyaksikannya. Orang-orang yang ada di sana langsung berteriak-teriak saking bahagianya.

"Kembangkan layar!" teriak sang pemimpin penjelajahan. Layar pun dikembangkan. Kapal itu pun memulai perjalanannya.

Sementara itu, para wartawan yang ikut menaiki kapal itu sibuk menggambar bagian dalam kapal itu dan aktivitas di sana.

"Hei, nama kalian siapa?" tanya Andri kepada para wartawan.

"Nama aku Ifa. Nah, yang ada di samping aku itu Rosa. Di sebelah Rosa itu Hani. Di sebelah Hani itu Fany. Nah, di sebelah Fany itu Irfan. Yang paling ujung itu namanya Damar." kata wartawan tersebut.

"Salam kenal. Nama saya Andri." kata Andri.

"Jangan lupa, saya Oji si ganteng." tiba-tiba, Oji muncul dari belakang Andri.

"O, ya, nama saya Hadi." tiba-tiba, Hadi ikut muncul dari belakang Andri.

"Hadi, Oji, jangan tiba-tiba nongol dong!" kata Andri.

"Halo." kata Fahri.

"Halo." kata Ifa.

"Siapa mereka?" tanya Fahri.

"Mereka itu wartawan. Nah, itu Ifa. Itu Rosa. Itu Hani. Itu Fany. Itu Irfan. Itu Damar." kata Andri.

Tiba-tiba, Rendy S muncul.

"Halo penduduk neraka!" kata Rendy S.

"Ren, apa nggak ada sapaan yang lain apa?" kata Fahri.

"Ada, halo, nak!" kata Rendy S.

"Cih!" kata Fahri.

"Ren, udah kenalan ama mereka?" tanya Hadi.

"Nggak usah, aku udah tau nama mereka semua. Yang itu Ifa, itu Rosa, itu Hani, itu Fany, itu Irfan, itu Damar." kata Rendy S.

"Ya, tapi nama kamu siapa?" tanya Damar.

"Kalem coy! Nama saya Rendy si ganteng. Tapi, karena ada Rendy imitasi, maka panggil saya Rendy S." kata Rendy S.

"Boleh aja ngomong gitu. Tapi manggil namanya pake S itu nggak enak. Makanya nggak pernah aku panggil pake S." kata Andri dalam hati.

Tiba-tiba, Erza, Rayhan, dan yang lainnya datang menghampiri Andri dan para wartawan.

"Woi, lagi ngapain, Ndri?" tanya Erza.

"Lagi ngobrol." jawab Andri.

"Oh, ya, mereka ini siapa?" tanya Ifa.

"Temen-temen aku." jawab Andri.

Erza, Rayhan, dan teman-temannya berkenalan dengan para wartawan itu. Setelah itu, para wartawan kembali menggambar.

Tiba-tiba, pemimpin penjelajahan dan beberapa anggota klub itu menghampiri Erza dan teman-temannya.

"Halo, para tamu se..." kata pemimpin penjelajahan.

"Sekalian?" Echa menebak.

"Sedikit lagi." kata pemimpin penjelajahan.

"Sekampung?" Hadi menebak.

"Sedikiit lagi." kata pemimpin penjelajahan.

"Selamanya?" Galih menebak.

"Sedikiiit lagi." kata pemimpin penjelajahan.

"Sekomplek?" Rendy S menebak.

"Sedikiiiit lagi." kata pemimpin penjelajahan.

"Seharusnya?" Oji menebak.

"Sedikiiiiit lagi." kata pemimpin penjelajahan.

"Apa dong, pak?" tanya Ayas.

"Semuanya." jawab pemimpin penjelajahan.

"Nah, bapak akan memperkenalkan nama bapak. Nama bapak Anshor yang manis. Panggil bapak Pak Anshor. Mau ditambah manis juga makasih. Nah, ini teman seperjuangan bapak. Ini namanya Kak Yopi. Yang ini namanya Kak Imu." kata Pak Anshor.

"Kak Yopi ganteng, ya?" bisik Diyyah kepada Moza.

"Iya." balas Moza.

"Nah, bapak adalah pemimpin penjelajahan. Sekarang, bapak akan menjelaskan situasi darurat. Kalau kapal ini mau jatuh, kalian ambil dan pake parasut yang ada di kamar-kamar. Habis itu lompat dari kapal dan buka parasutnya. Kalau ada yang pingsan, sakit, atau luka, panggil tim medis yang ada di bagian ujung depan lorong kapal. Kapal ini juga bisa untuk berlayar di laut. Kalau layar di samping rusak atau patah, kapal akan mendarat di atas laut dan berlayar. Jadi, nggak usah khawatir. Keselamatan di sini nomor satu." kata Pak Anshor.

Pak Anshor, Kak Yopi, dan Kak Imu kembali ke haluan kapal. Erza dan teman-temannya mengobrol kembali.

Hari demi hari berlalu. Akhirnya, Pak Anshor menemukan suatu pulau.

"Liat! Ada pulau! Kecilkan api!" teriak Pak Anshor. Api pun dikecilkan. Kapal itu terbang merendah. Pulau tersebut semakin jelas terlihat.

"Mendarat di pulau itu!" teriak Pak Anshor. Kapal pun mendarat di pinggir pantai. Semua orang yang ada di kapal itu langsung turun. Mereka semua menjelajahi pulau tersebut. Di pulau tersebut terdapat banyak hewan dan tumbuhan langka.

"Liat! Ada kodok aneh!" tunjuk Fabian.

"Itu kodok laut. Udah pernah diliat." kata Ulwan. Mereka terus berjalan menjelajahi pulau tersebut.

"Ah, itu mawar terompet!" kata Ulwan.

"Ada banyak?" tanya Pak Anshor.

"Ya, lumayan." jawab Ulwan.

"Petik satu aja." kata Pak Anshor.

"Oke, pak." kata Ulwan. Ia memetik setangkai mawar terompet untuk dibawa ke kapal itu. Mereka kembali melanjutkan penjelajahan.

"Ah, mawar benang pelangi." Pak Anshor memetik setangkai mawar itu. Mereka kembali melanjutkan penjelajahan.

Sepanjang penjelajahan tersebut, mereka menemukan banyak hewan dan tumbuhan langka. Setiap mereka menemukannya, mereka selalu mengambilnya untuk diteliti di laboratorium. Walau begitu, mereka tetap menjaga kelestarian alam yang mereka jelajahi karena motto mereka adalah "Alam adalah sahabat kita".

Ketika mereka sedang menjelajahi pulau tersebut, mereka mendengar sesuatu.

"Tadi itu suara apa?" tanya Moza.

"Paling suara hewan jalan." jawab Pak Anshor.

Suara itu terdengar kembali.

"Pak, itu suara apa?" tanya Diyyah gemetaran.

"Udah, jangan takut. Paling suara hewan lagi jalan." jawab Pak Anshor.

Setelah beberapa lama, suara itu tak terdengar lagi. Mereka kembali melanjutkan penjelajahan mereka. Setelah beberapa lama mereka berjalan, mereka beristirahat untuk makan.

"Siapa yang mau masak?" tanya Pak Anshor.

"Aku!" jawab Naufal.

"Kamu emangnya bisa?" tanya Pak Anshor.

"Bisa. Tanya aja sama temen aku." jawab Naufal.

"Ya, boleh." kata Pak Anshor.

Naufal dan beberapa anggota klub itu langsung mengeluarkan bahan-bahan yang akan dimasak. Dengan cepat, Naufal memotong-motong bahan itu. Sementara itu, beberapa anggota klub itu memasak air dan menanak nasi. Akhirnya, tidak beberapa lama kemudian, masakan dan nasi pun matang.

"Nah, ayo kita makan." kata Pak Anshor.

Mereka semua langsung makan masakan itu. Pak Anshor dan para anggota klub itu terkagum-kagum dengan rasa masakan itu.

"Kamu jagoan juga masaknya. Siapa nama kamu?" tanya Pak Anshor.

"Naufal, pak." jawab Naufal.

"Pinteran kamu masak. Jadi pingin nambah." kata Pak Anshor.

Setelah selesai makan, mereka kembali melanjutkan penjelajahan. Mereka kembali menemukan hewan dan tumbuhan langka.

"Ah, itu belalang bambu!" Arif langsung menangkap serangga tersebut.

"Wah, pakis emas!" Fathur memetik pakis tersebut.

"Ah, kupu-kupu selendang emas!" Kak Yopi menangkap kupu-kupu tersebut.

Semakin lama mereka menjelajah, semakin banyak hewan dan tumbuhan langkan yang mereka kumpulkan. Mereka masih melanjutkan penjelajahan mereka. Kali ini, mereka menemukan sebuah tumbuhan yang sangat langka.

"Ini 'kan pohon emas yang masih kecil." kata Pak Anshor. Beliau melihat ke sekelilingnya. Ternyata, banyak sekali pohon emas yang kecil di sekitarnya.

"Wah, banyak amat!" kata Pak Anshor. Pak Anshor langsung mengambil satu pohon emas tersebut. Kemudian, mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Akhirnya, mereka telah menjelajahi pulau tersebut pada sore hari. Mereka memutuskan untuk bermalam di sana. Mereka semua kembali ke atas kapal untuk beristirahat. Sesampainya di atas kapal, Pak Anshor menyimpan semua hewan dan tumbuhan yang beliau dapat di sebuah ruangan. Sementara itu, Erza dan teman-temannya mengobrol di dalam kamar.

Malam harinya, mereka makan malam di atas kapal sambil menikmati alam sekitar. Udara pada malam itu sangat sejuk. Langitnya pun cerah. Bersih dari awan. Lautnya pun tenang. Tak ada ombak besar di tengah laut.

"Cuaca hari ini bagus, ya?" kata Yatta.

"Iya." kata Irfan.

Ketika mereka sedang makan, mereka melihat sesuatu yang bercahaya.

"Apaan itu?" tanya Moza. Pak Anshor melihat cahaya tersebut dengan teliti. Lama kelamaan cahaya tersebut mendekati kapal itu.

"Ah, ini kupu-kupu cahaya emas!" kata Pak Anshor. Beliau langsung mengambil jaring penangkap serangga dan menangkap kupu-kupu itu. Ternyata, kupu-kupu itu sangat cepat, sehingga Pak Anshor kesusahan untuk menangkapnya. Setelah beberapa lama beliau berusaha untuk menangkap kupu-kupu itu, akhirnya Yatta dan Galih berhasil menangkapnya.

"Ya, berhasil!" kata Yatta.

"Mana?" tanya Pak Anshor. Mereka berdua memperlihatkan kupu-kupu itu.

"Lepas satu aja." kata Pak Anshor. Galih pun melepaskan kupu-kupu yang ditangkapnya. Sementara itu, kupu-kupu yang ditangkap oleh Yatta disimpan di ruangan tempat beliau menyimpan hewan dan tumbuhan yang telah ditangkapnya.

"Makasih. Eh, nama kamu siapa?" tanya Pak Anshor.

"Yatta, pak." jawab Yatta.

"Makasih, Yat!" kata Pak Anshor.

"Sama-sama." kata Yatta.

Setelah selesai makan, mereka semua bermain tebak-tebakan.

"Eh, tau gak, kita mandi biar?" tanya Pak Anshor.

"Biar sehat!" jawab Ira.

"Salah." kata Pak Anshor.

"Biar wangi!" jawab Echa.

"Salah lagi." kata Pak Anshor.

"Biar segar!" jawab Yatta.

"Salah lagi." kata Pak Anshor.

"Byar byur!" jawab Ulwan.

"Betul. Kita mandi itu byar byur." kata Pak Anshor.

Mereka semua bermain tebak-tebakan hingga larut malam. Akhirnya, setelah puas bermain tebak-tebakan, mereka semua pergi ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Sementara itu, di bagian yang lain di pulau itu, terdapat sekelompok orang yang mengikuti kapal itu sejak awal keberangkatan. Entah apa tujuan mereka. Tetapi, mereka mengikuti kapal itu dengan kapal layang yang mereka buat dengan mencontek sketsa kapal itu. Sekarang, mereka sedang mengambil seluruh hewan dan tumbuhan yang ada di pulau tersebut untuk dijual dengan harga mahal. Tanpa ampun, mereka menangkap semua hewan dan mengambil semua tumbuhan yang ada di pulau tersebut. Semoga pulau tersebut tidak digunduli habis oleh kelompok itu. Tapi, mereka juga pasti pintar. Tidak mungkin mereka menggunduli habis pulau tersebut. Jika mereka menggundulinya, mereka tak akan bisa mengangkut semua itu ke kapalnya yang berukuran cukup kecil. Lagipula, jika terdengar suara berisik, mereka akan diketahui oleh klub penjelajah alam dan harus bertarung dengan mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya