11. Pertarungan dengan Pendekar Hitam
"TOPLAK, TOPLAK" terdengar suara langkah kaki kuda yang begitu cepat. Langkahnya membuat debu-debu beterbangan. Semua orang yang melihatnya dibuat kagum. Badannya begitu besar, larinya begitu cepat, dan warnanya yang begitu hitam. Kuda tersebut dikendarai oleh seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam, jubah hitam, syal hitam, dan ikat kepala hitam. Di pinggangnya tersimpan sebuah pedang yang tidak biasa. Pedang tersebut dilengkapi dengan sesuatu yang tidak biasa.
Orang tersebut berpapasan dengan Erza dan Rayhan yang sedang mengendarai gerobak kuda. Mereka bertiga saling bertatapan. Erza dan Rayhan menatapnya dengan penasaran. Sedangkan orang itu menatap mereka berdua dengan tatapan dingin. Orang tersebut berlalu begitu saja. Rayhan menghentikan kudanya dan tetap menatap orang tersebut. Rayhan bertanya kepada Erza.
"Woi, Erza. Apa kita ikutin aja orang yang tadi?" tanya Rayhan.
"Ikutin aja. Saya juga penasaran." jawab Erza.
Rayhan pun memutar balik gerobaknya dan memacu kudanya lebih kencang. Ia mengejar orang tersebut dengan sekuat tenaga. Orang tersebut semakin jauh darinya. Rayhan pun memacu kudanya lebih cepat. Semakin lama ia bisa mengejar orang tersebut. Ia pun menjaga jarak dengan orang tersebut agar tidak diketahui orang tersebut. Sampai suatu saat ia berbelok ke jalan sempit. Rayhan pun tetap mengikutinya. Sedangkan Erza melihat sekelilingnya. Semakin lama mereka mengikuti, mereka semakin mendekati sebuah desa. Tetapi, mereka melihat suatu keanehan dari desa itu. Keanehan itu adalah tidak ada aktivitas di sana. Seharusnya, desa itu sedang ramai karena akitvitas penduduk. Tetapi, desa itu sepi. Tidak ada seorang pun yang keluar.
Keanehan desa itu semakin terlihat ketika mereka melewati desa tersebut. Bangunan-bangunan di desa tersebut terbengkalai. Keadaannya sudah tidak terawat. Beranda rumah berdebu, kaca-kaca bangunan yang pecah, pintu masuk rumah yang rusak, dinding bangunan yang berlubang, dan lain sebagainya. Di desa tersebut terdapat sebuah gudang tempat penyimpanan padi. Kondisinya sama seperti bangunan lain. Tidak terurus sama sekali. Padi-padi masih tersimpan di dalamnya. Tetapi, sudah tidak layak lagi untuk dimakan. Penumbuk padi pun dibiarkan tergeletak begitu saja. Tidak disusun rapi. Banyak tikus berkeliaran di dalamnya. Mereka berdua semakin heran. Apa yang terjadi dengan desa ini?
Tetapi, sebelum mereka berpikir lebih jauh, orang tersebut menoleh ke belakang. Sebelum ia sempat menoleh, Rayhan memacu kudanya dan berbelok. Orang tersebut langsung mengejar Rayhan dan Erza. Erza bersembunyi di balik gerobak. Sementara Rayhan memacu kudanya lebih cepat. Orang tersebut mencabut pedangnya dan mengacungkannya. Kemudian, ia memasukkan roket-roket petasan ke dalam suatu tabung yang menempel pada pedangnya. Setelah itu, ia mengarahkannya ke arah Rayhan dan Erza. Kemudian, meluncurlah roket-roket petasan dari pedangnya. Erza memberitahukan hal tersebut kepada Rayhan.
"Rayhan, hati-hati! Di belakang ada petasan meluncur ke arah kita!" kata Erza.
"Apa!? Petasan!? Tenang aja!" kata Rayhan.
Rayhan memacu kudanya ke arah papan miring yang berada di depannya dan kuda tersebut melompat bersama dengan gerobaknya. Sedangkan roket-roket tersebut terus meluncur lurus hingga akhirnya meledak di kejauhan. Rayhan pun kembali memacu kudanya sedangkan orang tersebut tetap mengejarnya. Orang tersebut tidak kehabisan akal. Ia melempar bom asap ke gerobak Rayhan dan Erza.
"Rayhan, sekarang kita dilempar bom asap!" kata Erza.
"Nggak usah panik amat, Erza." kata Rayhan.
Rayhan memacu kudanya lebih cepat dan membelokkannya. Akhirnya, mereka berdua selamat dari bom asap. Orang tersebut semakin kesal. Kali ini, ia melempar bom racun ke mereka berdua.
"Kali in apa?" tanya Rayhan.
"Bom racun!" jawab Erza.
Rayhan memacu kudanya lebih cepat dan mengendalikan kudanya dengan zig-zag. Akhirnya, untuk kedua kalinya mereka selamat. Orang tersebut bertambah geram. Dikeluarkannya sebuah cambuk yang sangat panjang. Kemudian, ujung cambuk tersebut ia lumuri dengan minyak. Setelah itu, ia bakar ujungnya. Orang tersebut siap membakar gerobak tersebut.
"Rayhan, kayaknya orang itu mau membakar gerobak kita!" kata Erza.
"Nggak akan mungkin. Jaraknya aja jauh." kata Rayhan dengan santai.
"Nggak! Dia pakai cambuk!" kata Erza.
"Emangnya sepanjang apa cambuknya?" tanya Rayhan.
"Lihat aja ke belakang!" kata Erza.
Rayhan pun menoleh ke belakang. Ia terkejut karena orang tersebut memiliki cambuk yang sangat panjang. Mungkin saja cambuknya bisa menjangkau gerobaknya. Rayhan berpikir sejenak untuk menghindar dari cambuk tersebut. Tetapi, Erza langsung mencabut pedangnya.
"Udah! Kalau yang ini langsung saya tebas!" kata Erza.
"Hati-hati, Erza! Kita nggak punya obat untuk luka bakar. Air juga cuma untuk minum aja." Rayhan mengingatkan.
"Oke! Saya akan berhati-hati!" kata Erza.
Akhirnya, ujung cambuk pun menjangkau gerobak mereka berdua. Erza langsung menghindar dan menebas ujung cambuk tersebut. Orang tersebut semakin geram. Diambilnya roket petasan yang berukuran besar dan dimasukkan ke dalam tabung yang menempel pada pedangnya. Roket-roket petasan meluncur kembali dengan kecepatan yang sangat cepat dari roket sebelumnya.
"Apa lagi sekarang, Erza?" tanya Rayhan.
"Petasan lagi! Tapi lebih cepat!" jawab Erza.
Rayhan membelokkan kudanya. Tetapi, petasan tersebut ikut berbelok. Kemudian, meluncur sebuah petasan ke arah samping gerobak. Rayhan memacu kudanya lebih cepat. Ternyata, petasan yang kedua pun berbelok ke arah belakang gerobak. Kemudian, orang tersebut menerbangkan seekor burung merpati yang membawa sebuah bom racun. Tidak lama setelah itu, orang tersebut meluncurkan banyak petasan. Rayhan dan Erza kewalahan. Kuda yang dipacu oleh Rayhan sudah mencapai batas kemampuannya. Di tengah keadaan seperti itu, Erza melihat seekor burung merpati menjatuhkan bom racun ke arah gerobak. Kemudian, ia memberitahu Rayhan.
"Rayhan, ada bom racun dari atas!" kata Erza.
"Apa!? Kita harus berbelok!" kata Rayhan.
Rayhan membelokkan kudanya. Dengan cara begitu, mereka berhasil lolos dari serangan bom racun dan beberapa petasan. Tinggal beberapa petasan yang harus mereka hindari. Di saat seperti itulah muncul ide dari Rayhan. Dari serangan petasan tadi, ia menarik sebuah kesimpulan, bahwa semua petasan yang mengarah pada gerobaknya berbelok sekali dan supaya petasan dapat mengikuti gerobaknya dibutuhkan waktu yang tepat. Maka, ia mendapat ide supaya bisa terhindar dari petasan-petasan tersebut. Ia memutar terus gerobaknya hingga semua petasan yang mengarah pada gerobaknya meluncur lurus.
Orang tersebut semakin geram. Ia langsung menyerang mereka dengan pedangnya. Tetapi, serangannya ditahan oleh Erza. Erza menyuruhnya untuk menurunkan pedangnya.
"Tenang dulu, turunkan pedangmu. Kami tidak ada maksud untuk menyerangmu. Kami ingin tahu siapa kamu. Tolong beritahu." kata Erza.
"Ah, terlalu baku! Biasa aja ngomongnya. Saya cuma orang biasa. Kerja saya cuma bantuin orang. Ya, saya ini orangnya suka berkelana. Oh, ya, kalian ini siapa? Kok ngikutin saya sih? Mau ngapain kalian ngikutin saya?" tanya orang tersebut.
"Eh, sama dong. Kami juga berkelana. Kami lagi nyari 69 orang terpilih ama 13 berlian. Kami ngikutin kamu habisnya kamu keliatan mencurigakan." jawab Erza.
"Oh, gitu. Ya, saya berpakaian kayak gini karena saya dipanggil pendekar. Makanya, saya pake baju hitam-hitam kayak gini." kata orang tersebut.
"Oh, ya. Siapa nama kamu? Dari tadi cuma ngomong tapi nggak tahu namanya." tanya Erza.
"Oh, ya. Nama saya Deiki. Si ahli silat, pedang, senjata, dll. Lalu, siapa nama kamu?" tanya Deiki.
"Nama saya Erza. Lalu, ini Rayhan." jawab Erza.
"Eh, saya boleh ikut nggak? 'Kan kita sama-sama pengelana." tanya Deiki.
"Boleh dong!" jawab Erza.
"Makasih ya!" kata Deiki.
"Sama-sama!" jawab Erza.
Kemudian, Deiki mengikatkan kudanya pada gerobak dan menaiki gerobak tersebut. Lalu, ia terkejut melihat syal yang dikenakan oleh Rayhan.
Komentar
Posting Komentar