18. Selamat Datang di Pulau Misterius


Erza dan teman-temannya sedang menuju Pulau Pasir Hitam, sebuah pulau yang misterius. Di pulau tersebut berdiri sebuah istana megah yang sudah tua. Konon, di istana tersebut terdapat harta karun yang terpendam. Banyak orang yang mencoba pergi ke sana. Tetapi, setiap orang yang masuk ke dalam istana tersebut tidak pernah kembali lagi dari sana.

Kali ini, mereka tidak lagi menggunakan gerobak untuk pergi ke sana. Tetapi, mereka semua menaiki camar raksasa untuk pergi ke sana. Perjalanan mereka pun semakin mudah. Yatta dan Galih memandangi lautan yang begiut luas dari atas camar raksasa tersebut.

"Liat, Yat! Ada paus balon!" kata Galih sambil menunjuk hewan tersebut.

"Liat itu, Galih! Ada ikan naga!" tunjuk Yatta.

Mereka pun sibuk menunjuk-nunjuk hewan laut yang dilihat mereka. Sementara itu, Fahri sedang melempar sesuatu.

"Kamu lagi ngelempar apaan?" tanya Erza.

"Lagi ngelempar batu." jawab Fahri.

"Kurang kerjaan." kata Erza.

Tiba-tiba, muncul seekor paus terbang dari permukaan laut. Paus tersebut melompati burung camar raksasa yang mereka naiki. Paus tersebut langsung kembali lagi ke laut. Fahri dan Erza pun terkejut setengah mati.

"Hampir aja." kata Erza.

"Bikin kaget aja!" kata Fahri.

Setelah beberapa lama mereka melakukan perjalanan, akhirnya mereka sampai di Pulau Pasir Hitam. Suasana pulau tersebut berbeda dengan pulau-pulau disekitarnya. Pulau tersebut ditumbuhi oleh pepohonan yang lebat. Banyak hewan-hewan aneh yang mengerikan yang hidup di sana. Satu hal lagi yang harus diketahui, tidak ada satu pun penduduk di sana! Jadi, jangan harap di sana bisa bertemu dengan seseorang. Walaupun ada yang pernah bertemu dengan seseorang, orang tersebut bukanlah penduduk di sana. Melainkan orang yang ingin mencoba menjelajahi pulau tersebut atau mencoba mencari harta karun yang terpendam di sana.

Erza dan teman-temannya langsung turun dari burung camar tersebut. Mereka langsung melihat sekeliling pulau tersebut dengan bingung. Pulau tersebut terlihat gelap walau di siang hari. Pasirnya pun terlihat seperti abu. Ketika mereka sedang melihat-lihat sekeliling pulau tersebut, tiba-tiba Moza melihat sesuatu.

"Woi, lihat! Ada sesuatu!" teriak Moza.

Moza pun mendekati benda tersebut. Setelah dekat dengan benda tersebut, Moza langsung terkejut. Ia pun langsung berteriak.

"Waaaaa! Ada mayat!" teriak Moza.

Teman-temannya langsung mendekati Moza.

"Ada apa, Moz?" tanya Yatta.

"Ya, ada apa?" tanya Galih.

"I, itu..." kata Moza sambil menunjuk mayat tersebut.

"Wah! Mayat!" Yatta terkejut.

Mereka semua langsung ketakutan.

"Wah, gimana ini, Yang?" tanya Diyyah sambil ketakutan.

"Hiii... mayat..." kata Fabian.

"Majesty Fahri, bagaimana ini?" tanya Alidza.

"Tenang, Alidza." kata Fahri.

Galih menyentuh mayat tersebut dengan pedangnya.

"Galih!" kata Alidza.

"Oh, ya." Galih pun memasukkan pedangnya kembali.

Ketika mereka sedang ribut membicarakan mayat tersebut, tiba-tiba datanglah beberapa orang menghampiri mereka.

"Ada apa ribut-ribut?" tanya seseorang di antara mereka.

"Siapa kalian?" tanya Rendy.

"Kami, kami penjelajah." kata seseorang yang tadi bertanya.

"Ya, tapi, kenalan dulu dong!" kata Rendy dengan ramah.

"Jadi, siapa nama kalian?" tanya Rendy.

"Nggak sopan kamu! Harusnya kamu dulu yang nyebutin nama kamu." kata orang tersebut.

"Oke, oke. Nama saya Rendy!" kata Rendy dengan kesal.

"Nah, gitu dong!" kata orang tersebut.

"Yang lainnya sebutin nama kalian dong!" kata orang tersebut.

"Nama saya Nabil." Nabil memperkenalkan diri.

"Nama saya Yatta." Yatta pun memperkenalkan diri.

"Salam! Nama saya Fahri!" Fahri pun memperkenalkan diri.

"Nggak usah kayak gitu! Biasa aja!" kata orang tersebut.

Setelah itu, Alidza, Galih, Fabian, dan yang lainnya memperkenalkan diri mereka.

"Bagus, bagus. Sekarang, giliran kami yang memperkenalkan diri kami." kata orang tersebut.

"Salam kenal, nama saya Rendy." kata orang tersebut.

"Wah, sama dong!" kata Rendy.

"Plagiat kamu! Dasar plagiat!" kata orang tersebut.

"Eh, kamu yang plagiat!" kata Rendy.

"Harusnya kamu yang plagiat!" kata orang tersebut.

Kedua Rendy tersebut saling tuduh-menuduh. Akhirnya, Erza menengahi mereka berdua.

"Udah, udah. Lebih baik kita buat nama panggilan baru." kata Erza.

"Ih, amit-amit. Nama panggilan aku ya, Rendy!" kata Rendy sewot.

"Kalau gitu panggil aku Rendy S!" kata orang tersebut.

"Apa itu Rendy S?" tanya Erza.

"Rendy... super!" jawab orang tersebut.

"Jadi, mulai sekarang kamu dipanggil Rendy S, ya?" kata Erza.

"Oke, deh!" kata Rendy S.

"Oh, ya, ini teman-teman saya yang berasal dari kuburan!" kata Rendy S sambil tertawa.

"Dasar nggak waras!" kata Rendy dalam hati.

"Pertama, perkenalkan, yang ini namanya Echa! Di sebelahnya namanya Naufal! Di sebelahnya lagi namanya Ira! Di sebelahnya lagi namanya Fikri! Di sebelahnya lagi namanya M. Irfan! Di sebelahnya lagi namanya Beryl! Nah, yang paling ujung namanya Ayas!" Rendy S memperkenalkan mereka semua.

"Salam kenal!" kata Ira.

"Nah, itu semua teman-teman saya yang baru bangkit dari kuburan! Wahahaha!" kata Rendy S sambil tertawa.

"Za, orang ini agak nggak waras, ya?" bisik Yatta kepada Erza.

"Ya, kayaknya dia pasien pondok jiwa yang kabur, deh." bisik Erza kepada Yatta.

"Nah, sekarang, kalian mau ngapain ke sini? Apa mau ikutan nyolong harta karun di istana yang tua itu?" tanya Rendy S.

"Ya, tentu." jawab Andri.

"Sombong amat kamu! Kayak gampang aja ke sana!" kata Rendy S.

"Ya, nggaklah." kata Andri.

"Ya udah, kita langsung aja jalan ke sana!" kata Yatta.

Akhirnya, kelompok Erza dan kelompok Rendy pergi menuju istana tua tersebut. Dengan mulutnya yang tanpa rem, Rendy S sering berkata asal atau asbun (asal bunyi) selama perjalanan. Tingkah laku Rendy S yang seperti orang aneh tersebut membuat Erza, Yatta, dan teman-teman yang lainnya terheran-heran.

"Eh, Fan, ada apa dengan si nggak waras itu?" tanya Fahri kepada M. Irfan. Kebetulan, mereka berdua pernah tinggal bersama-sama di pondok yang ada di luar negeri, walaupun mereka berdua tidak tinggal di ruangan yang sama.

"Biasa, dia emang suka gitu. Kalau tetangganya bilang dia kayak kerasukan atau ayan." jawab M. Irfan.

"Apa?" kata Fahri.

"Dia emang kayak gitu." kata M. Irfan.

"Apa? Kurang kedengeran!" kata Fahri.

"Hhh, dia emang kayak gitu!" kata M. Irfan sambil kesal.

Sementara itu, Dede sedang mengobrol dengan Ira. Kebetulan juga, mereka pernah tinggal di sebuah asrama yang ada di suatu kota.

"Eh, gimana kabar kamu?" tanya Dede.

"Baik." jawab Ira.

"Oh, ya, itu temen-temen kamu?" tanya Dede sambil menunjuk Beryl dan Ayas.

"Ya, aku baru ketemu ama mereka kemarin." jawab Ira.

"Oh, ya, ini ekspedisi diadain sama si nggak waras tadi?" tanya Dede.

"Bukan, ini diadain sama aku, Naufal, M. Irfan, dan Echa. Tapi, dia aja yang lagaknya kayak pemimpin gitu." jawab Ira sambil kesal.

Tiba-tiba, di tengah perjalanan muncullah seekor kalajengking kejang raksasa. Sengatannya dapat membuat orang langsung kejang-kejang. Dengan cekatan, Rendy S langsung mengeluarkan beberapa pedangnya dan langsung menyerang kalajengking tersebut.

"Rasakan sensasi kematian yang menyakitkan. Pedang Kematian!" Rendy S langsung menyerang kalajengking tersebut. Seketika itu pula, kalajengking tersebut langsung mati terpotong-potong.

Erza dan yang lainnya langsung terpana melihatnya. Erza belum pernah melihat serangan seperti itu sebelumnya.

"Ternyata, dia hebat juga, ya." kata Erza.

"Ah, dia cuma mau pamer doang! Gitu juga aku bisa!" kata Fikri.

Setelah beberapa lama mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di istana tua tersebut.

"Ini dia! Istana menyeramkan yang paling kusukai! Hahaha!" kata Rendy S sambil tertawa.

"Kita langsung saja masuk ke dalamnya dan merasakan sensasi darah di mana-mana. Slrrp! Lezat..." kata Rendy dengan perasaan senang.

"Kayaknya, istana itu serem, ya?" kata Moza kepada Dede.

"Udah, Moz. Jangan takut. 'Kan kita banyakan." kata Dede sambil menenangkan Moza.

"Gimana sekarang, kita langsung masuk aja gitu?" tanya Andri.

"Bentar, kita istirahat aja dulu." jawab Erza.

"Percuma saja, Erza. Cepat atau lambat kita akan merasakan darah di mana-mana. Hahaha!" kata Rendy S.

"Percuma apanya? Pokoknya, kita istirahat dulu di sini!" kata Erza.

Tiba-tiba, setelah Erza selesai berbicara, datanglah seekor elang besar yang menyambar mereka semua.

"Ya, ya udah, kita langsung masuk aja, yuk?" ajak Erza.

"Nah, harusnya gitu dari tadi." kata Rendy S.

"Oke, anak buahku, mari kita masuk ke istana darah. Wahahaha!" kata Rendy S.

"Ah, padahal, kamu takut sama darah." umpat Fikri.

Akhirnya, dengan perasaan tegang dan takut, mereka memasuki istana tersebut. Di dalam sana, banyak kejutan yang sudah menanti mereka. Mereka semua hanya bisa berharap semoga mereka bisa selamat selama berada di sana. Mereka juga berharap semoga tidak ada sesuatu yang mengerikan di sana. Sementara itu, di suatu ruangan, ada seseorang yang mengawasi mereka dari jauh.

"Rasakan permainan dari istana ini, para pengunjung baru." kata orang tersebut dalam hati.

Dengan hati yang tegang dan takut, mereka semua memulai petualangan mereka di dalam istana yang misterius tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya