19. Kejutan di Istana Tua
Mereka semua masuk ke dalam istana tua tersebut. Baru saja mereka masuk, mereka sudah merasakan hawa menyeramkan di dalam sana. Suara-suara aneh memang tidak mereka dengar. Tetapi, hawa menyeramkan mereka rasakan.
Istana tersebut dulunya dihuni oleh keluarga bangsawan yang kaya raya. Mereka mendirikan sebuah istana di pulau tersebut. Awalnya, istana tersebut adalah rumah untuk berlibur, bisa diibaratkan istana tersebut adalah sebuah villa keluarga. Tetapi, adik bangsawan tersebut, yang bekerja sebagai peneliti, ingin mempunyai sebuah laboratorium di pulau terpencil. Setelah ia melihat pulau tersebut, ia mempunyai ide untuk mendirikan laboratorium di sana. Tetapi, sang kakak tidak mengizinkannya. Lalu, terjadilah pertengkaran di antara keduanya. Pertengkaran itu semakin tidak terkendali. Sampai akhirnya, sang adik menusuk kakaknya dengan pisau dapur. Sang kakak pun terbunuh. Ternyata, keluarga sang kakak pun tidak mengizinkan sang adik mendirikan laboratorium di sana. Selain itu, mereka juga membenci sang adik yang telah membunuh kakaknya sendiri. Sang adik pun dijauhi oleh keluarga sang kakak dan tidak diizinkan untuk pergi ke pulau tersebut. Sang adik pun marah. Ia pun kembali ke pulau tersebut dengan membawa banyak peralatan. Sesampainya di sana, ia langsung membunuh semua anggota keluarga sang kakak. Ia membabat habis seluruh orang yang ada di dalam istana tersebut. Tersisalah sang pembantu istana tersebut yang masih hidup. Ia mengira sang adik mengincar harta kekayaan sang kakak. Karena itu, ia menuliskan sebuah pesan dan dimasukkan pesan tersebut ke dalam sebuah botol. Lalu, botol tersebut dihanyutkan ke laut. Sang adik yang melihat pembantu tersebut langsung membunuhnya dengan sadis. Akhirnya, istana tersebut menjadi kosong.
Setelah itu, sang adik langsung mendirikan sebuah laboratorium di sana. Ketika ia sedang mendirikan laboratorium tersebut, ia ingat sebuah pesan yang ditulis oleh sang pembantu yang ia bunuh. Ia takut jika pesan tersebut adalah sebuah pesan kematian. Ia pun langsung merombak seisi istana tersebut. Seisi istana tersebut berubah menjadi sebuah tempat yang berisi berbagai senjata pembunuh yang siap membunuh siapa saja yang masuk ke dalamnya. Laboratorium yang rencananya akan menempati seisi istana tersebut batal dibuat. Sebagai gantinya, ia mendirikan sebuah laboratorium kecil di sebuah ruangan di dalam istana tersebut.
Sementara itu, pesan tersebut diambil oleh seorang nelayan yang sedang melaut. Nelayan itu langsung membaca pesan tersebut. Ia pun langsung terkejut karena pesan tersebut menunjukkan letak sebuah harta karun di suatu pulau. Setelah selesai melaut, ia segera kembali ke pantai dan memberitahukan hal tersebut kepada seluruh orang. Kabar itu tersiar sampai ke desa-desa terpencil. Akhirnya, pesan tersebut disalin dan salinannya dijual dengan harga yang cukup mahal. Salinan tersebut laris diserbu oleh orang-orang yang ingin mencarinya. Akhirnya, banyak orang yang mencoba untuk mendapatkan harta karun tersebut. Tetapi, banyak di antara mereka yang tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Beredar isu yang mengatakan bahwa pulau tersebut dijaga oleh seorang "penunggu". Akhirnya, pulau tersebut menjadi pulau yang angker.
Walaupun pulau tersebut menyeramkan, tetapi tetap saja banyak orang yang pergi ke sana, termasuk Erza dan teman-temannya dan Rendy S beserta teman-temannya. Sekarang, mereka semua sedang berada di ruang tamu. Tiba-tiba, sebuah kejutan pertama muncul.
"Waaaa!" teriak Diyyah sambil menunjuk sebuah kapak besar yang mengayun ke arah mereka.
"Sini! Serahkan pada ahlinya." kata Fahri.
Fahri mengeluarkan pedangnya dan menyongsong kapak tersebut.
"Badai Gurun!" Fahri langsung menebas kayu yang menempel pada kapak tersebut. Kapak tersebut pun jatuh. Tiba-tiba, muncullah kejutan yang kedua. Kejutan yang kedua adalah tombak yang muncul dari arah kiri dan kanan mereka.
"Nafas Naga!" Andri langsung membakar salah satu tombak tersebut.
"Pedang Angin!" Ammar langsung memotong tombak yang lainnya.
Kejutan yang kedua pun telah berhasil dihancurkan. Tiba-tiba, muncul kejutan yang ketiga. Kejutan tersebut munculnya dari atas mereka.
"Waaaaaa! Ada batu besar jatuh!" teriak Moza.
Deiki langsung melompat dan menyongsong batu tersebut.
"Tenaga Seribu Kaki!" Deiki langsung menendang batu tersebut hingga batu tersebut merusak dinding yang ada di depan mereka. Tiba-tiba, muncul sebuah boneka kayu di hadapan mereka.
"Selamat datang di pemakaman kalian! Nikmati semua kejutan yang ada di sini! Selamat bersenang-senang!" boneka kayu itu berbicara.
"Berisik!" Rendy S langsung memotong boneka kayu tersebut. Tiba-tiba, dari atas Rendy S, sebuah batu besar jatuh kembali.
"Tenaga Seribu Kaki!" Deiki langsung menendang batu besar yang akan menimpa Rendy S. Batu tersebut merusak lagi dinding yang ada di depan mereka. Dinding tersebut pun runtuh. Mereka semua menuju ruang tengah istana tersebut.
"Luas amat ini ruangan." kata Rayhan.
Tiba-tiba, beberapa tong kayu menggelinding ke arah mereka semua. Rayhan langsung menyongsong tong kayu tersebut lalu membelahnya. Setelah terbelah, tong kayu tersebut langsung meledak. Rayhan pun langsung mundur. Tiba-tiba, puluhan tong kayu menggelinding dari arah berbeda. Lalu, dari atas mereka berjatuhan pula puluhan tong kayu.
"Gimana ini?" kata Moza sambil ketakutan.
"Udah, tenang aja." kata Echa sambil menenangkan Moza.
M. Irfan langsung mengeluarkan beberapa petasan roket dari tasnya. Lalu, ia menyalakan petasan roket tersebut.
"Ini dia! Ledakan Musim Panas!" teriak M. Irfan.
Petasan-petasan roket tersebut meluncur ke berbagai arah. Semua roket petasan tersebut mengenai tong-tong kayu yang berjatuhan itu. Semua petasan tersebut meledak dan tong-tong kayu yang berjatuhan itu pun ikut meledak. Terjadilah ledakan hebat di dalam sana.
"Kayak perayaan aja..." kata Fahri.
"Tapi, cara yang tadi lebih efisien..." kata M. Irfan.
"Tapi, jadi kebakaran gini..." kata Fahri.
"Udah resikonya kali..." kata Rayhan menimpali.
"Yang penting kita udah selamat..." kata Andri.
Tiba-tiba, ratusan tombak melesat ke arah mereka semua.
"Wah, tamat nih kita..." kata Dede.
"Nggak, belum tamat. Ayo Fabian, Galih, Ammar, Alidza! Keluarin pedang kalian!" teriak Fahri.
Mereka berempat langsung mengeluarkan pedang mereka.
"Ayo! Kita tunjukin kemampuan kita!" teriak Fahri.
Mereka berlima memasang ancang-ancang.
"Ayo! Pedang Lima Kekuatan!" teriak Fahri.
Mereka berlima menangkis semua tombak tersebut. Satu per satu tombak tersebut berjatuhan. Tiba-tiba, sebuah bola batu besar menggelinding ke arah mereka.
"Moza, nggak usah panik lagi." kata Dede kepada Moza.
"Wah, batu gede!" teriak Diyyah.
"Aduh! Malah Diyyah yang teriak..." kata Dede.
Nabil langsung menyongsong batu tersebut.
"Yeah! Bantingan Rocker Sejati!" Nabil langsung menghancurkan batu tersebut dengan palunya yang besar. Perlahan-lahan, batu tersebut runtuh. Tiba-tiba, muncul sebuah tong kayu raksasa yang menggelinding ke arah mereka.
"Tunggu! Kalau yang ini sama saya saja." kata Alidza.
Alidza langsung meluncurkan sebuah roket petasan ke arah tong tersebut. Tetapi, tong tersebut tidak hancur.
"Kayaknya satu aja nggak cukup." kata M. Irfan.
Ia langsung menyalakan beberapa roket petasan. Lalu, petasan tersebut meluncur ke arah tong tersebut. Ternyata, ketika petasan tersebut mengenai tong tersebut dan meledak, tong tersebut hanya sedikit terbakar.
"Kayaknya, yang itu bukan bom, deh." kata Dede.
Dede langsung memakai sarung tangan khusus yang dimilikinya. Ia pun menyongsong tong tersebut. Setelah berada dekat dengan tong tersebut, ia langsung menghentikan tong tersebut dengan sebelah tanganny dan melemparnya ke sesuatu yang ia anggap sebagai kejutan berikutnya. Tong tersebut terlempar dan mengenai sesuatu. Tong tersebut akhirnya pecah. Sedangkan sesuatu yang terkena tong tersebut langsung meledak.
Akhirnya, seluruh kejutan di ruangan tersebut sudah tidak ada lagi.
"Ayo, kita jalan lagi." kata Rendy S.
Tiba-tiba, muncul beberapa hewan aneh dari kamar-kamar yang ada di istana tersebut.
"Wah, muncul hewan jelek..." kata Fahri.
Tanpa lama-lama, Rendy S langsung menyongsong seekor hewan dan langsung menyerangnya.
"Mati kamu!" teriak Rendy S sambil menyerang hewan tersebut. Hewan tersebut akhirnya mati terpotong.
Sementara itu, seekor hewan lainnya sedang menyerang Moza dan Diyyah.
"Wah, kita diserang!" teriak Diyyah.
"Tenang, Diyyah. Aku punya senjata ampuh." kata Moza.
Moza mengeluarkan busurnya. Lalu, ia mengambil sebuah anak panah. Setelah itu, ia menyerang hewan tersebut dengan panah itu.
"Makan nih! Hewan jelek!" kata Moza.
Moza menyerang hewan tersebut secara terus-menerus. Akhirnya, hewan tersebut mati tertusuk beberapa anak panah.
Sementara itu, Fahri sedang berhadapan dengan salah satu hewan tersebut.
"Rasain nih! Pedang Badai!" Fahri membelah hewan tersebut. Hewan tersebut akhirnya mati terbelah.
"Makanya, rasain tuh!" kata Fahri.
Tiba-tiba, ia menyadari bahwa pedangnya sudah terlepas dari tangannya.
"Lho, lho, mana pedang aku?" Fahri langsung mencari pedangnya.
"Woi, Fahri, itu pedang kamu, bukan?" tanya Alidza sambil menunjuk sebuah pedang yang sedang melayang.
"Oh, iya! Kenapa bisa melayang gitu, ya?" tanya Fahri.
"Kamunya terlalu semangat, kali." jawab Alidza.
Fahri langsung mengejar pedangnya yang melayang itu.
"Woi! Berhenti woi!" teriak Fahri.
Fahri terus mengejar pedangnya yang belum juga berhenti melayang. Sambil melayang, ternyata pedang itu membunuh semua hewan yang berada di ruang tengah. Semua hewan itu langsung mati terbelah. Akhirnya, lama kelamaan pedang tersebut akhirnya berhenti melayang dan mendarat di dekat kaki Fahri.
"Ajaib. Pedang aku bisa melayang." kata Fahri.
"Pedang Ammar juga bisa." kata Alidza.
"Kayaknya kekuatan pedang ini berlebihan..." kata Fahri.
"Emang..." Alidza menimpali.
Tiba-tiba, dari lantai dua istana tersebut, muncul seseorang yang membawa tabung luncur petasan, beberapa pedang, dan busur serta anak panahnya.
"Hebat juga kalian. Bisa menghancurkan mahakaryaku ini." kata orang tersebut.
"Berisik!" Rendy S langsung berlari ke arah orang tersebut.
Tiba-tiba, orang tersebut langsung meluncurkan petasan roket ke arah Rendy S. Rendy S pun langsung menghindar.
"Silakan kalian menyerang aku. Tapi, hadapi dulu anak buahku." kata orang tersebut.
Tidak beberapa lama kemudian, keluarlah lima anak buah orang tersebut.
"Ayo anak buahku, bunuh mereka semua!" teriak orang tersebut.
Kelima anah buah itu langsung lompat dari lantai dua dan menghadang Erza dan teman-temannya. Kelima anak buah itu terlihat seperti orang yang tidak sadarkan diri. Sepertinya, mereka dikendalikan oleh orang tersebut.
"Serang mereka!" teriak orang tersebut.
Dengan teriakan orang tersebut, dimulailah pertarungan di pulau misterius tersebut.
Sementara itu, di pinggir pantai pulau itu, terdapat seseorang yang baru sampai di pulau tersebut. Orang tersebut memandangi pasir pulau tersebut. Tiba-tiba, ia merasakan ada sesuatu di tengah pulau tersebut.
"Sepertinya, ada sesuatu di tengah pulau ini." duga orang tersebut.
Orang tersebut memasuki hutan yang mengelilingi pulau tersebut dengan perasaan yang cukup berani. Ia menjelajahi pulau tersebut tanpa rasa takut yang berlebihan. Siapakah orang tersebut? Tunggu jawabannya di bagian selanjutnya.
Komentar
Posting Komentar