27. Pertarungan di Udara


Pertarungan di Udara

Matahari mulai muncul di ufuk timur. Sinarnya mulai menyelimuti dunia. Hangatnya mulai terasa di kulit. Ayam-ayam pun mulai berkokok. Satu per satu orang yang ada di kapal itu mulai bangun. Mereka langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, mereka sarapan pagi untuk mengisi tenaga mereka untuk melanjutkan penjelajahan.

"Nyalakan api!" teriak Pak Anshor. Api menyala. Balon pun mengembang.

"Turunkan layar!" teriak Pak Anshor. Layar yang ada di samping langsung diturunkan. Kapal pun siap berangkat lagi.

Cuaca pada hari itu sangat cerah. Langit berwarna biru cerah. Burung-burung tampak beterbangan di langit. Angin bertiup sepoi-sepoi. Kapal itu terbang dengan tenang dan aman. Kak Yopi memantau keadaan sekitar kapal itu sedangkan Pak Anshor sedang mengecek ruangan rahasia yang ada di kapal itu. Para wartawan sedang asyik memotret aktivitas para anggota klub penjelajah alam yang sedang bekerja. Sementara itu, Erza dan teman-temannya sedang mengobrol.

"Za, aku punya benda ajaib!" kata Yatta.

"Apa itu?" tanya Erza.

"Ini." Yatta menunjukkan berlian biru cerah yang ia punya.

"Wah, Yat, ini berlian yang aku cari." kata Erza.

"Ambil aja kalau emang kamu nyari ini." kata Yatta sambil menyerahkan berlian yang ia punya.

"Makasih, Yat." kata Erza.

"Sama-sama." kata Yatta.

Setelah beberapa lama kapal itu terbang, akhirnya kapal itu mendarat di sebuah pulau. Seperti biasa, mereka semua menjelajahi pulau tersebut. Setelah selesai menjelajahi pulau tersebut, mereka semua beristirahat di kapal. Paginya, mereka melanjutkan perjalanan mereka. Untungnya, selama beberapa hari cuaca selalu cerah. Sehingga, perjalanan mereka lancar. Akhirnya, kapal itu sudah berlabuh di lima pulau terpencil yang menjadi tujuan mereka dari awal. Penjelajahan mereka pun selesai. Sekarang, mereka menuju pulau Ketimuran sebagai tempat akhir penjelajahan.

"Hore! Akhirnya selesai juga! Tinggal ke di Pulau Ketimuran!" kata Ulwan.

"Yeey! Nanti kita terkenal!" kata Fathur. Sementara itu, Iqbal dan Arif hanya diam saja.

"Bal, Rif, kok kalian diem aja? Nggak rame!" kata Fathur.

"Nggak apa-apa." jawab Iqbal.

Tiba-tiba, Pak Anshor datang menghampiri mereka.

"Ada apa, pak?" tanya Ulwan.

"Jangan seneng dulu, bisa aja ada sesuatu di tengah jalan. Yang penting, kalian harus dalam keadaan siap." jawab Pak Anshor. Pak Anshor pergi meninggalkan mereka.

"Kok kayak ada sesuatu yang nggak enak, ya?" kata Fathur.

"Ya, kayak bakal ada sesuatu." kata Ulwan.

"Udah, jangan buruk sangka gitu." kata Arif.

"Sok alim kamu!" kata Fathur.

"Udah, tur, yang dibilangin sama Arif itu bener. Kita jangan berburuk..." tiba-tiba Ulwan terdiam.

"Ada apa?" tanya Fathur.

"Coba lihat ke sana." kata Ulwan sambil menunjuk sesuatu yang melayang.

"Itu 'kan mirip kapal layang?" kata Fathur.

"Ya! Tapi, kapal layang 'kan cuma ini aja! Belum ada yang bikin kapal ini selain kita!" kata Ulwan.

"Bener juga, ya." kata Fathur.

Ulwan berteriak kepada Kak Yopi.

"Kak Yopi! Coba arahin teropongnya ke arah timur!" teriak Ulwan.

Kak Yopi segera mengarahkan teropongnya ke arah timur. Kak Yopi terkejut setengah mati. Ternyata, Kak Yopi melihat sebuah kapal layang lain. Padahal, belum ada kapal layang selain yang dinaiki oleh Kak Yopi. Kak Yopi langsung berteriak kepada Pak Anshor.

"Kapten! Ada kapal layang yang mirip sama kapal layang kita!" teriak Kak Yopi.

"Mana!?" tanya Pak Anshor.

"Di arah timur!" jawab Kak Yopi.

Pak Anshor langsung mengeluarkan teropongnya dan mengarahkannya ke arah yang disebutkan Kak Yopi. Pak Anshor langsung terkejut ketika beliau melihat ke arah timur. Beliau melihat sebuah kapal layang lainnya. Beliau langsung memerintahkan untuk menjauhi kapal itu. Tetapi, tetap saja kapal itu mendekati kapal layang klub penjelajah alam. Pak Anshor langsung memerintahkan untuk memakai benda rahasia untuk menambah kecepatan kapal itu.

"Keluarkan camar angin!" teriak Pak Anshor. Beberapa anggota klub itu langsung mengeluarkan kepala camar itu ke belakang kapal.

"Cuiiiiiiit!" beberapa anggota klub yang berada di dekat camar itu bersiul.

"Hembuskan angin!" teriak mereka.

Camar itu langsung menghembuskan angin. Kapal itu menjadi lebih cepat. Mereka berhasil menjauhi kapal layang lainnya. Tetapi, kapal layang itu tetap saja berhasil mengejar kapal yang dinaki oleh Pak Anshor dan yang lainnya. Segala cara sudah dilakukan untuk menghindari kapal itu. Tetapi, tetap saja kapal itu bisa mengejar kapal layang klub penjelajah alam. Akhirnya, kapal itu berhasil mendekati kapal layang klub penjelajah alam.

"Semuanya! siapkan senjata kalian!" teriak Pak Anshor. Para anggota klub penjelajah alam langsung mengeluarkan senjata mereka. Erza dan teman-temannya ikut mengeluarkan senjata mereka. Ternyata, para wartawan pun mengeluarkan senjata mereka.

"Fathur, Iqbal, Arif! Pake syal kalian!" kata Ulwan. Mereka pun segera memakai syal tersebut. Erza melihat mereka berempat memakai syal yang sama dengan syalnya. Erza langsung memakai syalnya dan menyuruh teman-temannya untuk memakai syal mereka. Para wartawan yang mendengar perkataan Erza langsung memakai syal mereka. Sementara itu, Pak Anshor menanyai kapten kapal layang yang mendekati kapal layang klub penjelajah alam.

"Siapa kalian?" tanya Pak Anshor.

"Manusia." jawab sang kapten. Para anak buah kapten itu langsung tertawa terbahak-bahak.

"Serius." kata Pak Anshor.

"Oh, ya, ya." kata sang kapten.

"Saya tanya sekali lagi, siapa kalian?" tanya Pak Anshor.

"Kami penyanyi." jawab sang kapten. Pak Anshor kesal mendengarnya.

"Ya, kami penjahat! Masa' yang gitu aja nggak tau?" kata sang kapten. Para anak buahnya tertawa kembali.

"Woi! Serius! Apa maksud kalian niru kapal ini? Apa juga maksud kalian deketin kapal kami?" tanya Pak Anshor.

"Niru? Kami buat sendiri! Lagipula, nggak apa-apa 'kan deketin kapal kalian?" kata sang kapten.

"Bohong! Kalian pasti ngejiplak sketsa kapal ini terus kalian buat kapal yang mirip sama ini!" kata Pak Anshor.

"Emang." kata sang kapten.

"Apa tujuan kalian niru kapal ini?" tanya Pak Anshor.

"Ya, suka-suka kami." jawab sang kapten. Pak Anshor langsung geram. Dengan bahasa isyarat, Pak Anshor memerintahkan untuk menembak kapal itu.

"BUUUUUUUUUUM!" sebuah meriam meluncurkan pelurunya ke arah kapal kapten itu. Tetapi, peluru itu berhasil ditangkis oleh anak buahnya.

"Hebat... peluru meriam aja bisa ditangkis..." kata Ifa.

Sang kapten kapal tersebut langsung terdiam. Ia langsung memperkenalkan dirinya dan anak buahnya.

"Oh, ya, salam kenal. Nama saya Ray si kuat dan lincah dari pulau terpencil. Saya punya sepuluh anak buah. Ada ahli mekanik, ahli pedang, ahli panah, ahli silat, si pemain api, pembunuh berdarah dingin, tangan ular, ahli senjata, kaki martil, dan si tangan baja. Kami adalah kelompok penjahat 'Dewa Hitam'! Kalian akan takluk di depan kami!" kata sang kapten.

"Ah, nggak usah basa-basi! Serang mereka!" teriak Pak Anshor. Semua yang ada di kapal klub penjelajah alam itu langsung menyerang para anak buah Ray, sang kapten kapal itu. Meriam-meriam berdentuman dari kapal klub penjelajah alam dan kapal Dewa Hitam. Sementara itu, Ray dan Pak Anshor bertarung satu lawan satu. Pertempuran sengit pun dimulai. Tanpa berlama-lama, mereka semua mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Banyak sekali petasan yang meluncur. Api mulai membakar area pertarungan. Anak panah menancap di kapal. Asap dan racun bercampur menjadi satu. Sementara itu, meriam-meriam terus berdentuman menembakkan peluru ke kapal lawan.

"Dentuman Martil Raksasa!" si tangan baja menyerang anggota klub penjelajah alam, termasuk Erza dan teman-temannya dan para wartawan. Tetapi, serangan si tangan baja ditahan oleh Fahri dan Andri. Tiba-tiba, si pemain api langsung mengeluarkan jurusnya.

"Badai Matahari!" keluarlah api yang akan membakar Erza dan teman-temannya, anggota klub penjelajah alam, dan para wartawan. Tetapi, serangan tersebut berhasil dipatahkan oleh Diyyah.

"Diyyah, kamu..." kata Ayang.

"Hehehe, gini-gini aku punya pedang gunung salju." kata Diyyah. Tiba-tiba, si pemain api akan menyerang Diyyah dari belakang.

"Diyyah! Di belakang!" teriak Ayang.

Diyyah langsung berbalik dan menyerang si pemain api itu. Terjadilah adu jurus antara api dan es. Si pemain api terus mengeluarkan api sedangkan Diyyah terus menekan api tersebut dengan pedangnya. Deiki melihat sebuah kesempatan dari pertarungan antara Diyyah dengan si pemain api. Ia langsung berlari ke arah si pemain api lalu menendangnya. Tetapi, si pemain api menyadarinya. Ia langsung menangkis serangan Deiki. Tetapi, ia lengah. Ia tidak memerhatikan Diyyah yang akan segera menusuk jantungnya. Tetapi, serangan Diyyah gagal akibat dipukul oleh si tangan baja. Diyyah terpental hingga ke ujung kapal. Dengan cepat, Ulwan, Iqbal, Arif, dan Fathur langsung menyerang si tangan baja.

"Ayo! Kita satukan serangan kita!" teriak Ulwan. Mereka semua berpencar.

"Ayo! Kita mulai serangannya!" teriak Ulwan.

"Taring Hiu!" Arif menyerang kaki si tangan baja.

"Goresan Darah!" Iqbal menyerang bahu si tangan baja.

"Pukulan Beruang!" Fathur memukul perut si tangan baja.

"Yang terakhir, Kaki Macan!" Ulwan menendang kepala si tangan baja.

Si tangan baja tak bisa berbuat apa-apa. Ia memang kuat. Tetapi, ia tidak lincah. Akibatnya, ia tidak bisa menangkis serangan Ulwan, Arif, Iqbal, dan Fathur. Akhirnya, ia pun rubuh dan terbaring di atas kapal dengan kaki terpotong dan tulang leher patah.

"Yeeey! Si tangan baja udah mati!" Fathur bersorak kegirangan. Tiba-tiba, Fathur, Ulwan, Arif, dan Iqbal ditendang hingga terpental ke luar kapal. Beberapa anggota klub penjelajah alam langsung memanggil seekor burung.

"Cuit, cuit, cuit!" mereka bersiul. Kemudian, datanglah merpati raksasa dari kapal itu.

"Selamatkan mereka!" perintah mereka. Merpati itu langsung terbang ke arah Ulwan, Iqbal, Arif, dan Fathur.

Sementara itu, Erza dan teman-temannya, para anggota klub penjelajah alam, dan para wartawan masih bertempur dengan anak buah Ray. Kali ini, anak buah Ray terus menyerang Erza dan teman-temannya, para wartawan, dan para anggota klub penjelajah alam.

"Badai Martil!" si kaki martil menyerang Erza dan teman-temannya, para wartawan, dan para anggota klub penjelajah alam. Deiki, Fahri, Rayhan, Yatta, Rendy S, dan Nabil berusaha menahan tendangan itu. Ternyata, usaha mereka sia-sia. Mereka semua terpental hingga ke ujung kapal. Mereka berenam bangkit kembali. Tetapi, mereka langsung diserang oleh si pemain api.

"Hutan Api!" si pemain api menyerang mereka berenam. Mereka berenam langsung lari menghindari api tersebut. Kapal klub penjelajah alam mulai rusak dan terbakar. Walau begitu, kapal itu masih bisa melayang karena balon udaranya belum rusak. Sementara itu, Pak Anshor sedang bertarung dengan Ray di atas menara kapal klub penjelajah alam. Mereka tidak peduli apakah kapal mereka hancur atau tidak. Mereka hanya fokus dengan lawannya.

"Tebasan Angin Gunung!" Pak Anshor menyerang Ray. Dengan cepat, Ray menghindari serangan Pak Anshor.

"Tebasan Neraka!" Ray menyerang balik Pak Anshor. Pak Anshor menahan serangan itu.

"Putaran Badai!" Pak Anshor kembali menyerang Ray. Dengan cepat, Ray mencengkeram pedang Pak Anshor. Pak Anshor melepas pedangnya lalu menendang Ray. Dengan cepat, Ray menghindari serangan Pak Anshor.

"Pusaran Ombak Hitam!" Ray menyerang balik Pak Anshor. Dengan cepat, Pak Anshor menghindari serangan itu lalu menyerang balik Ray.

"Kaki Tombak!" Pak Anshor menendang Ray. Tetapi, serangan Pak Anshor berhasil ditangkis Ray. Ray langsung mencengkeram kaki kanan Pak Anshor. Tetapi, Pak Anshor langsung menendang Ray dengan kaki kirinya. Ternyata, kaki kiri Pak Anshor dicengkeram oleh Ray. Akhirnya, Pak Anshor mengeluarkan jurus mautnya.

"Pusaran Tornado!" Pak Anshor memutar badannya. Tangan Ray mulai terpelintir. Tetapi, ia berusaha sekuat tenaga menahan serangan Pak Anshor. Walaupun begitu, serangan Pak Anshor begitu kuat. Ray pun tidak bisa menahannya kembali. Akhirnya, tangannya pun terpelintir.

"Aaaaaah! Tanganku!" Ray meringis kesakitan. Pak Anshor yang kedua kakinya sudah bebas langsung menendang Ray. Tetapi, Pak Anshor tidak bisa membuatnya jatuh. Tidak beberapa lama kemudian, tangan Ray kembali seperti semula. Ray langsung menendang Pak Anshor. Dengan cepat, Pak Anshor mencengkeram kaki Ray lalu membanting tubuh Ray ke tiang menara.

Pertarungan di kapal itu berubah menjadi sangat berbahaya. Setengah bagian kapal terbakar. Kapal Dewa Hitam mulai rusak. Kedua kapal itu tak akan bertahan lama. Selain itu, mereka semua tidak menyadari bahwa langit mulai gelap. Mereka baru sadar ketika hujan mulai turun. Air hujan itu memadamkan api yang membakar kapal itu. Walau begitu, mereka tetap melanjutkan pertarungan. Mereka terus bertarung hingga mereka tak sadar bahwa hujan semakin lebat dan angin semakin kencang. Tiba-tiba, angin mulai berputar-putar membentuk suatu pusaran angin yang sangat kencang. Pusaran angin itu mulai mendekati kapal itu dengan cepat. Tetapi, mereka tetap belum sadar. Hingga akhirnya Ulwan melihat sebuah pusaran angin yang akan mengarah ke kapal itu. Ulwan pun mulai ketakutan. Apakah Erza dan teman-temannya, para wartawan, dan para anggota klub penjelajah alam akan berhasil mengalahkan kelompok Dewa Hitam dan berhasil menghindari pusaran angin itu? Ataukah akan sebaliknya? Hanya takdir yang akan menentukannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya