29. Sekolah Elit Bawah Tanah


Sekolah Elit Bawah Tanah

Akhirnya, Erza, Ivan dan teman-temannya sampai di pelabuhan Pulau Ketimuran. Di sana, banyak orang yang menantikan kedatangan kapal layang. Setibanya di sana, Pak Anshor dan teman-teman satu klubnya langsung pergi ke tempat pendaratan kapal layang.

"Kalian siapa? Kenapa kalian berdiri di atas sana?" tanya seseorang yang ada di sana.

"Sayalah kapten kapal layang dan di belakang saya ini adalah krunya." kata Pak Anshor. Semua orang langsung terkejut.

"Bohong kalian! Kalau kalian adalah para kru kapal layang, kenapa kalian bisa sampai di sini?" tanya seseorang yang ada di sana.

"Kapal layang kami jatuh di sebuah pulau. Lalu, kami diselamatkan oleh Raja Isfan dan para pegawainya dan sekelompok penjelajah yang kebetulan ada di sana." kata Pak Anshor.

"Yang bener kalian semua!" teriak seseorang yang ada di sana.

"Benar. Jika mau bukti, coba datangi pulau... pulau apa?" tanya Pak Anshor kepada Ivan.

"Pulau Leer Boden." jawab Ivan.

"Pulau Leer Boden!" Pak Anshor melanjutkan perkataannya.

"Oke! Kami akan pergi ke sana! Ayo, anak buahku, kita pergi ke Pulau Leer Boden!" teriak orang tersebut. Orang tersebut dan anak buahnya langsung menaiki perahu mereka dan pergi ke Pulau Leer Boden. Sementara itu, Pak Anshor dan teman-teman satu klubnya ditahan oleh masyarakat di penjara sampai kelompok yang pergi tadi kembali lagi.

"Aduh, temen kita ditahan di penjara." kata Rayhan.

"Tenang, tunggu aja sampai mereka balik dari Pulau Leer Boden." kata Erza.

"Kelompok yang tadi itu?" tanya Rayhan.

"Ya." jawab Erza.

Tiba-tiba, Erza dan teman-temannya dicegat oleh seseorang. Orang itu segera mendekati Erza dan teman-temannya.

"Kalian orang-orang terpilih yang dipilih oleh kerajaan?" tanya orang itu.

"Betul." jawab Erza.

"Ikut saya." kata orang itu. Erza dan teman-temannya mengikuti orang itu. Tak disangka, mereka melewati jalan yang sangat sempit. Mereka terus mengikuti orang itu. Sampai akhirnya, mereka sampai di suatu hutan yang sangat gelap. Tidak ada satupun cahaya di sana, termasuk cahaya matahari. Di hutan itu, terdapat sebuah lingkaran yang mempunyai ukiran sangat aneh dan rumit. Orang itu berhenti di lingkaran itu. Mereka pun berhenti. Orang itu mendekati lingkaran itu dan mengutak-atiknya. Erza dan teman-temannya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh orang itu. Apakah ia mencongkelnya, membuka kuncinya, atau memakai cara khusus lainnya? Entah apa yang dilakukan oleh orang itu, lingkaran itu langsung terbuka. Orang itu masuk ke dalam lubang itu. Mereka semua mengikutinya.

Ternyata, di dalam hutan itu terdapat sebuah lorong bawah tanah yang sangat luas dan panjang. Dinding lorong itu dipenuhi dengan ukiran yang tidak jelas dan cermin-cermin kecil.

"Wah, bagusnya..." kata Moza.

"Mahakarya..." kata Rendy S.

"Terlalu..." kata Hadi.

"Terlalu bagus..." kata Alidza.

"Bal, coba kamu bikin gambar kayak gini." kata Ulwan.

"Susah." jawab Iqbal.

Orang itu tidak berkata sepatah kata pun. Ia hanya berjalan dan berjalan sedangkan Erza dan teman-temannya terus mengikutinya. Akhirnya, Erza dan teman-temannya sampai di sebuah ruangan yang sangat luas. Ruangan itu penuh dengan cahaya lampu lentera. Banyak pintu di dalam ruangan itu. Ruangan itu dipenuhi dengan ukiran artistik. Mereka seakan-akan dibawa ke sebuah istana yang indah.

"Ya, selamat datang di School van Nationaal Ontwaken atau Sakola Kabangkitan Bangsa. Sebenarnya, ini gedung pemerintahan sewaktu darurat. Kalau bukan darurat, tempat ini jadi sekolah elit. Sekolah ini tidak diperuntukan bagi siswa kalangan priyayi saja. Rakyat biasa pun bisa belajar di sini. Akan tetapi, tidak semua bisa belajar di sini. Siapapun yang ingin masuk ke sekolah ini, harus melewati proses seleksi yang ketat. Tidak bisa semua orang belajar di sini. Karena, lulusan dari sekolah ini akan menjadi satuan elit dari pemerintahan. Nantinya, satuan elit itu juga bisa dipakai sama negara." kata orang itu.

"Kalau begitu, siapa anda sebenarnya?" tanya Fahri.

"Saya, panggil saya Guru Edi. Di sini, saya akan mengajari kalian semua tentang pengetahuan dan fisik. Selain saya, akan ada tiga guru lagi yang akan mengajari kalian. Guru Husein, Guru Ratna, kemarilah!" kata Guru Edi. Mereka berdua langsung datang.

"Perkenalkan, ini adalah dua guru lain yang akan mengajari kalian. Yang ini Guru Husein dan yang disebelahnya Guru Ratna. Nah, kalian akan diajari oleh kami selama satu bulan. Pelajaran ini akan menjadi pelajaran tercepat yang pernah diadakan oleh sekolah ini. Kalian juga harus kerja keras agar kalian bisa lulus dari sini dalam waktu satu bulan." kata Guru Edi.

"Nah, kalian siap?" tanya Guru Edi.

"Siap!" teriak mereka semua.

"Nah, kalau begitu, pelajaran dimulai!" kata Guru Edi.

Mulai saat itu, mereka belajar di sekolah yang aneh itu. Sebenarnya, memang aneh belajar di dalam sana. Namun, sekolah itu mempunyai banyak ruangan yang berhubungan dengan dunia luar. Ada yang berhubungan dengan pantai, ada yang berhubungan dengan tanah lapang, bahkan ada yang berhubungan dengan gedung pemerintahan. Jadi, arsitektur sekolah itu termasuk arsitektur paling modern di masanya.

Selama mereka di sana, mereka diajari banyak hal, seperti pengetahuan umum, berpedang, memanah, berkuda, berenang, membuat senjata, kimia, sains, dan lain sebagainya. Mereka benar-benar harus berjuang selama belajar di sana. Mereka bangun pada saat fajar dan tidur pada saat malam sudah larut. Keringat bercucuran dari tubuh mereka. Otak mereka seakan-akan diperas. Sampai suatu saat, beberapa teman Erza mulai kelelahan.

"Sudah! Saya mau keluar dari sini!" kata Moza.

"Sama! Aku udah capek!" kata Damar.

"Aku nggak kuat lagi! Aku mau keluar!" kata Diyyah.

"Udah, ah! Belajar di sini kayak neraka! Mending aku keluar aja!" kata Uqi.

Beberapa teman Erza yang lainnya berkata demikian.

"Udah, udah, sabar dulu aja." kata Rayhan.

"Gimana bisa sabar kalau kita gini terus!" kata Uqi.

"Udah, Qi, sabar aja." kata Adi.

"Diem kamu, Di!" kata Uqi.

Akhirnya, terjadi keributan di sana. Guru Husein dan Guru Ratna yang mendengarnya langsung mendatangi mereka semua.

"Ada apa ribut-ribut?" tanya Guru Husein.

"Ada masalah?" tanya Guru Ratna.

"Nggak, nggak ada masalah." kata Rayhan.

"Udah, bilang aja kalau kalian ada masalah." kata Guru Ratna.

"Sebentar, pasti kalian mau keluar dari sini. Iya 'kan?" tanya Guru Husein. Mereka semua langsung terdiam.

"Begini, kalian semua duduk melingkar dulu di bawah. Habis itu, guru akan menceritakan sesuatu kepada kalian semua." kata Guru Husein. Mereka semua langsung duduk melingkar. Guru Husein dan Guru Ratna duduk bersama mereka. Guru Husein mulai bercerita.

"Dulu, semua murid yang pernah belajar di sini mempunyai semangat tinggi saat awal masuk. Namun, ketika di tengah pelajaran, mereka mulai tumbang satu per satu. Akhirnya, mereka banyak yang berusaha kabur dari sekolah itu. Mereka berusaha keluar dari berbagai ruangan yang ada di sini. Tetapi, usaha mereka semua gagal. Mereka yang ingin keluar dari sekolah itu diberi motivasi agar meneruskan sekolahnya. Akhirnya, mereka semua berhasil lulus dari sekolah ini." kata Guru Husein.

"Begini, kalian semua. Kalian tau 'kan sekolah ini tersembunyi dari dunia luar? Ini memang sengaja agar melatih kemampuan murid-murid menjadi lebih hebat. Karena, lulusan dari sini akan menjadi satuan elit pemerintah. Nah, kalian yang menjadi orang-orang terpilih yang akan beraksi untuk menyelamatkan kerajaan. Jadi, kalian harus berusaha lulus dari sini." kata Guru Ratna.

"Erza, ke sini sebentar." kata Guru Husein. Erza langsung mendekatinya.

"Erza, ayah kamu masih hidup?" tanya Guru Husein. Erza menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Kalau begitu, siapa penerus tahta sekarang?" tanya Guru Husein.

"Raja Ehud." jawab Erza.

"Ehud?" Guru Husein berpikir sejenak.

"Ehud itu... Kalau begitu... mereka harus bergerak cepat." kata Guru Husein dalam hati.

"Erza, berapa banyak orang yang sudah kamu kumpulkan?" tanya Guru Husein.

"Ada 41. Empat orang lagi ditahan. Jadi, ada 45." jawab Erza.

"Berlian?" tanya Guru Husein.

"Baru dua." jawab Erza.

"Baru dua? Coba kamu tanyain ke temen-temen kamu." kata Guru Husein.

"Woi, ada yang punya berlian kayak gini?" tanya Erza sambil menunjukkan berlian yang ia punya.

"Oh, saya punya." kata Rayhan dan Deiki.

"Bilang dong dari dulu!" kata Erza sambil kesal.

"Maaf, cuy!" kata Deiki.

"Cuy, cuy, cuy aja! Sini! Berikan berlian kamu!" kata Erza. Mereka berdua memberikan berlian itu kepada Erza.

"Siapa lagi yang punya berlian kayak gini?" tanya Erza. Rendy S, Ayang, Naufal, Ira, dan Ivan memberikan berlian yang mereka punya kepada Erza.

"Nah, ketahuan 'kan?" tanya Guru Husein.

"Ya." kata Erza.

"Nah, ada berapa berliannya sekarang?" tanya Guru Husein.

"Ada sembilan." jawab Erza.

"Nah, tanya temen-temen kamu, mereka beneran pingin ikut kamu atau nggak." kata Guru Husein.

"Woi, kalian beneran mau ikut aku?" tanya Erza. Semua teman-temannya mengangguk, kecuali Ivan dan teman sekelompoknya.

"Emangnya buat apa ikut sama kamu?" tanya Ivan.

"Ih, Van, inget kata orang yang pernah ngasih syal kayak gini ke kita." kata Ardhi sambil menunjukkan syalnya.

"Emangnya kenapa?" kata Ivan.

"Kalau ada orang yang ngajak kita ikut, berarti ada sesuatu di kerajaan." kata Ardhi.

"Emangnya masalah apa?" tanya Ivan.

"Mana aku tau." jawab Ardhi.

"Emangnya ada apa di kerajaan?" tanya Ivan.

"Tahta kerajaan direbut." jawab Erza.

"Emangnya kenapa, gitu?" tanya Ivan.

Guru Husein menjelaskan, "Tahta kerajaan direbut sama Ehud, adik raja sebelumnya. Masalahnya, ketika tahta kerajaan direbut olehnya, maka nasib negeri akan berada di ujung tanduk."

"Maksudnya?" tanya Ivan.

"Susah untuk menjelaskannya. Intinya, jika tahta kerajaan jatuh kepadanya, negeri ini akan hancur!" kata Guru Husein.

"Ya udah, kita ikut gabung. Kita akan membunuh Ehud!" kata Ivan.

"Nah, sekarang, nggak ada masalah lagi, 'kan? Sekarang, silakan beristirahat." kata Guru Husein.

Mereka semua beristirahat di kamarnya masing-masing. Pagi harinya, mereka kembali belajar. Mereka belajar dan terus belajar. Sampai akhirnya, mereka dihadapkan pada tes kelulusan.

"Nah, hari ini kalian akan dites. Tesnya bukan di sini, tapi di luar sana. Mau tau tempat tesnya? Ikut guru." kata Guru Edi.

Mereka semua mengikuti Guru Edi. Mereka memasuki sebuah ruangan yang sangat gelap. Lalu, mereka menaiki tangga. Akhirnya, mereka sampai di sebuah jalanan yang sangat padat.

"Kita mau tes apa di sini?" tanya Fahri.

"Kalian harus berjalan dari sini hingga ke pelabuhan. Tapi, kalian harus sampai di pelabuhan saat siang hari. Lewat dari itu, tes kalian dinyatakan gagal." kata Guru Edi.

"Kalau gitu, kita mulai tesnya." kata Rendy S.

"Oke, tes dimulai!" kata Guru Edi.

Mereka langsung berlari menyusuri jalan itu. Dengan teknik yang mereka pelajari, mereka menyusuri jalanan itu dengan memanfaatkan keadaan.

"Hup!" Ardi menaiki gerobak kuda seseorang dan melompat ke gerobak kuda lainnya.

"Yaha! Aku si manusia laba-laba! Bisa lompat ke gedung lainnya!" Adi melompati gedung-gedung yang ada di pinggir jalan.

"Ini baru ski tropis!" Rendy meluncur dari atap bangunan dan melompat ke atap lainnya.

"Lewat selokan lebih mantap!" Rayhan meluncur di selokan pinggir jalan itu.

Akhirnya, mereka semua sampai di pelabuhan pada siang hari. Namun, mereka tidak tahu harus apa lagi setelah sampai di sana. Tiba-tiba, Guru Edi mendatangi mereka.

"Selamat, selamat, selamat, kalian lulus! Usaha kalian selama satu bulan ini tidak sia-sia. Ayo, kalian ikut guru!" kata Guru Edi.

Mereka pun sampai di sekolah itu lagi. Sesampainya di sana, mereka mengobrol dengan para guru sambil memakan tempe goreng, tahu goreng, dan bala-bala. Malamnya, mereka kembali mengobrol. Keesokan paginya, mereka berpamitan dengan para guru.

"Guru, kami mau melanjutkan perjalanan lagi." kata Erza.

"Melanjutkan perjalanan, silakan. Tapi, sebelum pergi, guru mau ngasih sesuatu ke kalian." kata Guru Edi. Ia memberikan beberapa persenjataan dan perbekalan kepada mereka semua.

"Erza, khusus buat kamu, guru kasih pedang spesial." kata Guru Edi sambil menyerahkan sebuah pedang kepada Erza.

"Pedang apa ini?" tanya Erza.

"Ini zwaard van opstanding. Pedang ini disebut juga pedang kebangkitan. Dengan pedang ini, kekuatanmu dapat meningkat beberapa kali lipat. Pedang ini juga dapat menembus batu yang sangat keras. Tapi, bagaimanapun hebatnya, pedang ini juga tergantung kepada pemakainya. Jadi, gunakan pedang ini sebaik mungkin. Teruslah berjuang untuk merebut kembali hakmu. Kami di sini akan terus mendo'akanmu. Sepertinya, cuma itu pesan dari guru. Selanjutnya, kalian boleh pergi. Guru akan membimbing kalian keluar dari sini." kata Guru Edi.

Guru Edi membuka sebuah pintu lalu memasukinya. Erza dan teman-temannya mengikutinya. Mereka terus berjalan mengikuti Guru Edi. Sampai akhirnya, mereka menemui sebuah tangga. Mereka menaiki tangga itu. Dari tangga itu, akhirnya mereka semua keluar di sebuah taman kota.

"Nah, silakan melanjutkan perjalanan kalian. Semoga berhasil sampai tujuan!" kata Guru Edi.

"Oke, guru!" kata Uqi.

"Selamat jalan!" kata Guru Edi.

"Oke, guru! Selamat tinggal!" kata Adi.

Erza dan teman-temannya kembali melanjutkan perjalanan mereka. Mereka berjalan mengelilingi kota itu. Tiba-tiba, mereka bertemu dengan Ulwan dan teman-temannya yang ditahan di penjara.

"Ulwan?" tanya Erza.

"Apa kita boleh ikut sama kalian?" tanya Ulwan.

"Boleh, boleh." jawab Erza.

"Hore!" teriak Ulwan.

"Ayo, masuk ke kelompok." kata Rayhan.

Ulwan dan teman-temannya langsung bergabung dengan Erza dan teman-temannya. Mereka kembali mengelilingi kota itu.

"Ulwan, bukannya kamu dipenjara?" tanya Fahri.

"Ya, itu dulu. Sekarang, kita udah bebas. Orang-orang yang waktu itu pergi ke Pulau Leer Boden udah balik lagi. Mereka bilang bangkai kapal itu bener-bener ada. Makanya, kita bisa bebas." kata Ulwan.

"Tapi, bukannya kamu gabung sama klub itu?" tanya Fahri.

"Emang, tapi aku sama temen-temen udah minta ijin ke Pak Anshor. Sama Pak Anshor dibolehin. Jadi, kita bisa gabung sama kalian." kata Ulwan.

"Baguslah." kata Fahri.

Kini, Erza telah berhasil mengumpulkan 44 orang terpilih. Sisanya tinggal 25 orang lagi. Berlian yang telah ia dapatkan sudah berjumlah sembilan buah. Tinggal sedikit lagi untuk menuju istana dan merebut kembali tahta kerajaan.

"Tinggal sedikit lagi, tinggal sedikit lagi! Tunggu aja, Ehud! Tahta akan kembali padaku!" kata Erza dalam hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya