23. Akhir Tahu yang Heroik


Akhir Tahu yang Heroik

Pertempuran sengit terjadi di depan sebuah menara. Walaupun jumlah anggota kelompok teroris itu lebih sedikit daripada Erza dan teman-temannya dan Bu Nia, tetap saja mereka sangat susah untuk dikalahkan. Mereka semua benar-benar ahli dalam keahlian yang mereka bisa. Berapapun lawan mereka, mereka tidak mudah untuk dikalahkan. Justru, lawannya yang terdesak dan kalah.

Bunyi Ledakan, anak panah yang melesat, bunyi pedang beradu, adu silat, dan adu senjata-senjata aneh bercampur dalam pertempuran itu. Bom asap, bom racun, dan ledakan petasan diluncurkan dalam jarak yang cukup dekat. Jurus-jurus aneh pun dikeluarkan. Intinya, mereka semua mengeluarkan seluruh kemampuan mereka.

"Badai Pasir!" Fahri menyerang anak buah kelompok teroris itu. Tetapi, serangannya langsung ditangkis.

"Nafas Naga!" Andri menyerang mereka semua dengan bola apinya. Tetapi, serangannya langsung ditangkis dengan jurus lawannya.

"Cakar Kematian!" Rendy S menyerang mereka semua dengan beberapa pedangnya. Lagi-lagi, serangannya berhasil ditangkis.

"Pedang Hitam!" ahli pedang dari kelompok teroris itu menyerang Erza dan teman-temannya dan Bu Nia. Tetapi, serangan itu berhasil ditangkis oleh Rendy S.

"Ledakan Malam Hari!" ahli peledak dari kelompok teroris itu menyerang mereka semua. Tetapi, serangan itu berhasil ditangkis kembali.

"Sabetan Hitam Kelam!" ahli pedang kelompok teroris itu menyerang kembali mereka semua. Serangan tersebut berhasil ditahan oleh Erza. Tetapi, serangan tersebut sangat kuat. Akhirnya, Erza terhempas hingga beberapa meter.

"Martil Kelam!" ahli martil kelompok teroris itu menyerang mereka semua secara terus-menerus. Serangannya membabi-buta. Bekas hantaman martil bertebaran di sekitar area itu.

"Api Malam!" ahli senjata kelompok teroris itu menyerang mereka semua dengan bola api. Erza dan teman-temannya dan Bu Nia langsung berlari menghindari bola api itu.

"Tamatlah kalian semua! Martil Bencana!" ahli martil kelompok teroris itu akan memukul tanah dengan martilnya. Tetapi, ketika ia akan melakukannya, serangannya langsung ditahan oleh Rendy.

"Serangan basi! Aku juga udah tau serangan kayak gitu!" kata Rendy.

Rendy dan ahli martil itu bertarung satu lawan satu. Ahli martil itu langsung menyerang Rendy. Rendy pun langsung menahannya. Rendy langsung membalas menyerang. Dengan cepat, ahli martil itu menahannya. Begitupun selanjutnya. Mereka saling membalas menyerang. Setelah beberapa lama mereka saling menyerang, akhirnya ahli martil itu menyerang Rendy secara membabi-buta. Rendy pun kewalahan untuk menahan serangannya. Akhirnya, Rendy pun terpojok.

"Terbanglah ke langit!" ahli martil itu akan menyerang Rendy. Tetapi, ketika ia akan menyerang Rendy, ia langsung ditembaki roket petasan.

"BUM!" sebuah roket petasan meledak dan mengenai lengannya.

"Siapa itu!?" teriak ahli martil itu sambil memadamkan lengannya yang terbakar.

"BUM! BUM! BUM!" tiga roket petasan meledak dan mengenai dirinya kembali.

"BUM! BUM! BUM!" tiga roket petasan meledak dan mengenai dirinya kembali.

"WAAAAAAA! Tubuhku! Tubuhku terbakar!" teriak ahli martil itu.

"Woi! Cari air, woi!" teriak temannya.

"Kelamaan!" teriak temannya yang lain.

"Pake keahlian khusus! Padamin pake kaki! Atau padamin pake jaket atau jubah!" teriak ahli martil itu.

Sementara itu, di atas sebuah pohon terdapat beberapa orang sedang bersembunyi.

"Ayo Alidza! Kita serang lagi!" kata M. Irfan.

"Ayo! Kita bikin yang lebih heboh lagi!" kata Alidza.

Mereka berdua melilitkan petasan-petasan kecil ke sebuah roket petasan. Setelah itu, mereka menyalakan roket petasan itu dan petasan-petasan kecil itu. Roket petasan itu langsung meluncur dengan cepat dan mengaarah ke semua anggota kelompok teroris itu. Sementara itu, mereka masih sibuk dengan temannya yang terbakar.

"BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! BUM! BUM!" petasan-petasan kecil yang melilit pada roket petasan itu meledak satu per satu.

"WAAAAAA! PETASAN!" teriak temannya.

Belum sempat mereka semua berlari, roket petasan itu langsung meledak.

"BUUUUUUUUUUUUM!" roket petasan itu meledak dan membakar seluruh anggota kelompok teroris itu.

"Bodoh amat mereka semua! Temannya kayak gitu malah panik!" kata Andri.

"Masa' bodoh! Yang penting, mereka semua mati!" kata Rendy S.

Alidza dan M. Irfan langsung turun dari pohon.

"Galih, rencana kamu berhasil!" kata Alidza.

"Bagus!" kata Galih.

"Alidza, Irfan, yang tadi itu keren!" kata Bu Nia.

"Makasih, bu." kata Alidza.

Sementara itu, Frank dan pemimpin petugas keamanan sedang bertarung di atas menara. Mereka berdua sama kuatnya. Berkali-kali mereka saling memojokkan. Berkali-kali pula mereka mengeluarkan kemampuan mengerikan mereka. Petasan, bom asap, bom racun, martil, silat, hingga jurus sudah mereka gunakan. Menara bagian atas tempat bertarung mereka sudah rusak. Tidak lama lagi bagian atasnya akan rubuh.

"Cacahan Bulan Sabit!" Frank menyerang pemimpin petugas keamanan itu dengan sangat cepat. Serangannya begitu menakutkan. Tetapi, pemimpin petugas keamanan itu langsung menangkisnya.

"Putaran Ombak Malam Hari!" pemimpin petugas keamanan itu menyerang balik Frank. Dengan cepat, Frank menangkis serangan itu.

"Martil Hitam!" Frank menyerang balik pemimpin petugas keamanan itu dengan martilnya. Dengan cepat, pemimpin petugas keamanan itu menghindarinya dan menyerang balik Frank.

"Kaki Macan!" pemimpin petugas keamanan itu langsung menendang kepala Frank. Frank tidak bisa menghindar atau menangkisnya lagi. Ia pun terhempas ke belakang.

"Api Musim Panas!" pemimpin petugas keamanan itu langsung menyerang Frank dengan bola api. Tetapi, serangan itu berhasil ditangkis oleh Frank.

"Tinju Musim Dingin!" Frank meninju perut pemimpin petugas keamanan itu. Ia pun terhempas ke belakang.

"Aah! Beku! Perutku membeku! Seperti kram!" pemimpin petugas keamanan itu meringis kesakitan.

Ia menggosokkan minyak cabai kuning ke perutnya. Perutnya pun pulih seperti sedia kala.

"Hmm... minyak cabai kuning... Bom Cabai!" Frank langsung melempar bom cabai ke pemimpin petugas keamanan itu. Bom cabai itu langsung meledak. Ledakan cabai itu langsung membuat matanya pedih. Ketika matanya sedang pedih, Frank langsung menyerang pemimpin petugas keamanan itu dengan pedangnya.

"Matilah kau!" teriak Frank sambil menyerang pemimpin petugas keamanan itu.

"TRANG!" serangan Frank berhasil ditangkis.

"Jangan kira aku tidak bisa bertarung dengan mata tertutup." kata pemimpin petugas keamanan itu. Ia mengambil botol yang berisi air dari kantungnya dan membasahi matanya dengan air itu.

"Mari kita lanjutkan." kata pemimpin petugas keamanan itu.

"Martil Kegelapan!" Frank langsung menyerang pemimpin petugas keamanan itu. Pemimpin petugas keamanan itu langsung menendang perut Frank. Frank langsung terhempas ke belakang. Ia pun langsung bangkit.

"Awas kau! Martil Kehancuran!" Frank langsung memukul-mukul lantai menara itu dengan martilnya. Terjadilah guncangan di atas menara itu. Dengan sigap, pemimpin petugas keamanan itu menghindari serangan itu dengan cara melompat-lompat. Frank terus memukul lantai menara itu sedangkan pemimpin petugas keamanan itu menghindari serangan tersebut.

Tiba-tiba, Frank memukul lantai menara tersebut sekeras-kerasnya. Lantai tersebut retak-retak. Lalu, lantai tersebut runtuh secara perlahan-lahan. Mereka berdua langsung berdiri di pinggir menara. Lantai yang runtuh itu langsung menimpa lantai yang ada di bawahnya. Lantai itu pun ikut runtuh. Akhirnya, semua lantai yang ada di menara itu runtuh. Kini, menara itu terlihat seperti cerobong asap besar. Tangga untuk naik ke atas menara sudah hancur tertimpa lantai yang runtuh. Kini, mereka berdua berdiri di pinggir menara.

"Ledakan Malam Hari!" Frank langsung menyerang pemimpin petugas keamanan itu dengan beberapa petasan. Dengan cepat, pemimpin petugas keamanan itu langsung meledakkan petasan itu dengan pedangnya. Pemimpin petugas keamanan itu langsung menendang Frank. Tetapi, kakinya langsung dipegang oleh Frank. Pemimpin petugas keamanan itu langsung dibanting ke dinding menara itu dan dilempar ke laut. Akhirnya, pemimpin petugas keamanan itu tercebur ke laut. Frank pun langsung melompat turun. Tetapi, ia langsung disambut oleh Deiki yang akan menendangnya.

"Makan nih! Tusukan Tombak Rakyat!" Deiki langsung menendang Frank. Frank pun langsung terhempas ke atas. Dengan cepat, Deiki melilitkan petasan-petasan kecil ke tubuh Frank. Petasan-petasan itu langsung dinyalakan oleh Deiki. Ia juga mengikat Frank ke roket petasan yang ia bawa. Setelah itu, ia menyalakan sumbu roket petasan itu. Meluncurlah Frank ke langit.

"Inilah perayaan malam tahun baru!" teriak Deiki.

"Hore!" teriak Rendy S.

Petasan-petasan kecil itu meledak satu per satu. Sekujur tubuh Frank mulai terbakar. Akhirnya, semua petasan kecil itu sudah meledak. Terakhir, roket petasan itu akan meledak sebentar lagi.

"BUUUUUM!" roket petasan itu akhirnya meledak. Sekujur tubuh Frank pun terbakar dan jatuh ke tanah. Lama kelamaan tubuh Frank berubah menjadi abu. Abu tersebut terbawa angin yang menuju arah laut. Abunya pun berakhir di laut. Sementara itu, pemimpin petugas keamanan berhasil diselamatkan oleh panitia-panitia yang ada di sana.

"Wah, pas! Kita berhasil mengalahkannya tepat tengah malam!" kata Diyyah.

"Ya, kalian semua berhasil! Kalian berhasil mengalahkannya tepat tengah malam! Inilah perayaan tahun baru yang dramatis!" kata Bu Nia.

"Tapi, aku ngantuk..." kata Moza sambil menguap.

"Ya udah, kita pulang ke penginapan." kata Erza.

"Kalau gitu, ibu juga mau pulang ke rumah." kata Bu Nia.

Mereka semua pulang ke penginapan mereka sedangkan Bu Nia pulang ke rumahnya. Mereka semua meninggalkan menara yang sudah runtuh itu. Di kemudian hari, menara itu akan menjadi saksi bisu pertempuran akhir tahun yang dramatis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya