20. Akhir untuk Istana Tua


Istana yang awalnya megah itu akhirnya rusak. Di dalamnya terdapat dinding yang runtuh, lantai yang rusak, dan sebuah ruangan yang terbakar. Erza dan teman-temannya kini sedang menghadapi seseorang yang tinggal di istana tersebut dan kelima anak buahnya.

Kelima anak buah tersebut langsung menyerang Erza dan teman-temannya. Mereka pun membalas menyerang kelima anak buah tersebut. Sementara itu, Rendy S dan kelompoknya langsung menghadapi orang yang tinggal di istana tersebut. Ketika mereka akan pergi ke sana, mereka langsung dihujani oleh roket-roket petasan. Dengan cekatan, mereka menghindari roket petasan tersebut. Tiba-tiba, mereka dilempar beberapa tong kayu. Dengan cekatan, mereka berhasil menghindari lagi serangan tersebut. Lalu, mereka dihujani dengan anak panah. Dengan lihai, Rendy S menangkis semua anak panah tersebut. Akhirnya, Rendy S dan kelompoknya sampai di lantai dua.

"Hmhmhm, ternyata kalian bisa mengejar saya, ya?" kata orang tersebut.

"Aaaah! Banyak omong kamu!" Rendy S langsung menyerang orang tersebut. Tetapi, ketika ia akan menyerang orang tersebut, ia langsung ditembaki batu besar.

"Apaan itu? Canggih amat!" kata Fikri.

"Aku belum pernah liat yang kayak gitu." kata Echa.

"Kalau diliat, kayaknya itu senjata buatannya sendiri. Apa orang itu ahli senjata?" tanya M. Irfan.

"Salah! Tebakan kalian salah! Saya bukan ahli senjata. Saya seorang peneliti! Peneliti gila! Peneliti yang akan menembus batas kemampuan manusia! Saya berambisi untuk menemukan sesuatu yang gila dari makhluk hidup untuk dijadikan sebagai monster! Selain itu, saya juga berambisi untuk memodifikasi diri saya sebagai..." kata orang tersebut.

"Sampah?" terka Rendy S.

"Bukan! Makhluk sampah!" teriak peneliti tersebut.

"Mutant?" terka Echa.

"Bukan lagi! Makhluk sampah!" teriak peneliti tersebut.

"Cyborg?" terka M. Irfan.

"Haha, betul! Saya akan menjadi..." peneliti tersebut membuka jubahnya. Ternyata, di balik jubahnya, ia menyembunyikan tubuhnya yang telah berubah menjadi senjata mematikan. Tubuhnya telah diubah sedemikian rupa sehingga ia menjadi manusia setengah mesin.

"Gwahahaha! Makan nih! Serangan pertama!" teriak peneliti tersebut.

Beberapa roket petasan meluncur dari tangan kirinya dan mengarah ke Rendy S dan kelompoknya.

"Bahaya!" Rendy S dan kelompoknya langsung tiarap.

"DAAAAAAR!" semua petasan itu menubruk dinding dan meledak.

"Sialan! Peneliti sampah itu ngajak ribut aja!" kata Rendy S.

Tiba-tiba, mereka ditembaki peluru meriam.

"Aduh, aduh, aduh!" Naufal berusaha menghindari peluru tersebut.

"BUUUUUUUUM!" peluru tersebut pun menghancurkan dinding.

"Nah, mau ngomong apa lagi kalian?" tanya peneliti tersebut.

Mereka semua diam membisu.

"Gwahahaha! Makan lagi nih! Biar puas!" teriak peneliti tersebut.

Peneliti tersebut terus-menerus menembaki mereka semua dengan roket petasan dan meriam. Mereka semua hanya bisa menghindari serangan tersebut.

"Eh, Monyong!" Naufal terkejut.

"Eh, monyong, monyong!" Echa pun terkejut.

"Aduh! Monyong, monyong!" Ira pun ikut terkejut.

"Aah! Pada monyong-monyong semua nih!" Rendy S kesal.

"Makan lagi nih!" teriak peneliti tersebut.

"Makan juga ini, nih! Petasan Akhir Tahun!" teriak M. Irfan.

Akhirnya, mereka berdua saling beradu roket petasan. Beberapa roket ada yang saling menabrak dan ada yang berhasil menyerang lawannya. Rendy S beserta kelompoknya dan peneliti tersebut langsung menghindari serangan tersebut. Terjadilah ledakan di lantai dua. Ledakan tersebut semakin merusak istana yang tua itu.

"Nih! Makan pedang aku!" Rendy S langsung melemparkan pedangnya ke arah peneliti tersebut. Dengan entengnya peneliti tersebut menangkis pedang tersebut dengan tangan kanannya. Setelah itu, ia langsung mengambil pedang tersebut.

"Kurang waras!" Fikri dan Naufal langsung maju dan menyerang peneliti tersebut.

"Nih, makan hidangan pembuka dari aku! Potongan Roti!" Naufal menyerang leher peneliti tersebut.

"Nih! Tebasan Badai!" Fikri menyerang bagian punggung peneliti tersebut.

Tetapi, keduanya diserang balik oleh peneliti tersebut. Mereka berdua yang awalnya menyerang peneliti tersebut, sekarang mereka langsung diserang dari dekat. Mereka pun terhempas jauh. Peneliti tersebut langsung mendekati Rendy S yang masih terbaring. Tanpa segan-segan ia menginjak perut Rendy S.

"Dasar mulut sampah! Orang sampah kayak kamu pantas untuk dibunuh!" kata peneliti tersebut.

"Apa kamu bilang?" tanya Rendy S.

"Apa kamu tuli? Aku bilang..." tiba-tiba, peneliti tersebut langsung diserang oleh Rendy S.

"Aaah! Sialan! Mataku..." peneliti tersebut meringis kesakitan.

Rendy S langsung menyerang lagi. Kali ini, ia menendang peneliti tersebut hingga terpental ke atas. Bersamaan dengan itu, Rendy S langsung berdiri di atas badannya. Ketika peneliti tersebut akan jatuh, Rendy S menyerang bagian-bagian tertentu pada seluruh tubuhnya.

"Aaah! Selang gas beracunku! Tidak! Selang asapku! Masker hebatku! Tabung luncurku! Meriamku! Kaki superku! Helm kendaliku! Tidak!" teriak peneliti tersebut.

Akhirnya, peneliti tersebut jatuh di lantai satu, tepat di dekat anak buahnya.

"Bos, bos, bos..." semua anak buahnya mendekati peneliti tersebut.

Rendy S pun mendarat di badan peneliti tersebut.

"Minggir, Ren! Biar aku yang bagian penutupnya!" teriak Andri.

Andri langsung memasukkan minyak ke dalam mulutnya. Lalu, ia menyalakan obornya. Setelah itu, ia mengarahkan badan dan obornya tepat ke peneliti tersebut.

"Nafas Naga!" Andri langsung menyemburkan minyak yang ada di mulutnya ke obornya. Lalu, terbentuklah sebuah bola api yang langsung mengarah ke peneliti tersebut.

"Aduh! Tamat dah..." kata peneliti tersebut dalam hati.

Api tersebut langsung membakar peneliti tersebut dan anak buahnya. Peneliti tersebut akhirnya meledak. Ledakan tersebut sampai di lantai dua. Semua yang ada di lantai dua langsung turun ke lantai satu. Api hasil ledakan tersebut menyambar lantai dua istana tersebut. Api hasil ledakan itu juga langsung merambat ke segala arah. Erza, Rendy, dan semua temannya langsung keluar dari istana tersebut.

Akhirnya, istana tua yang megah itu habis terbakar. Tidak ada lagi yang tersisa dari istana tersebut, kecuali harta karunnya saja yang masih selamat. Peneliti dan anak buahnya terbakar hingga menjadi abu. Istana yang awalnya megah itu pun rata dengan tanah. Erza dan teman-temannya meninggalkan istana tersebut tanpa menoleh ke arah istana itu lagi.

"Woi! Gimana harta karunnya?" tanya Rendy S.

"Udah, biarin aja." jawab Erza.

"Ih! Mubazir!" kata Rendy S.

"Ah, biarin." kata Erza.

"Ah, kalau gitu kelompok aku aja yang ambil." kata Rendy S.

"Terserah." kata Erza.

"Woi! Ayo kita balik lagi, budak-budakku!" kata Rendy S kepada teman kelompoknya.

"Nggak!" jawab semuanya.

"Ah, nggak rame!" kata Rendy S.

"Emang." kata Fikri.

Mereka semua menuju pinggir pantai untuk pergi melanjutkan perjalanan berikutnya. Sementara itu, seseorang yang baru mendarat di sana langsung pergi menuju istana yang terbakar itu secara diam-diam. Ia takut jika ia diketahui oleh Erza dan teman-temannya. Akhirnya, ia pun sampai di sana dengan sukses. Sesampainya di sana, ia langsung mencari letak harta tersebut. Setelah beberapa lama ia mencari, akhirnya ia menemukan sebuah pintu bawah tanah. Ia langsung berusaha membuka pintu tersebut. Sayangnya, pintu itu terkunci. Tetapi, ia tidak putus asa. Ia mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membuka pintu tersebut. Ia juga menggunakan seluruh peralatan yang ia bawa. Tetapi, pintu itu tetap tidak terbuka. Ia pun kesal. Palu yang ia pegang langsung dibantingnya. Palu tersebut membentur pintu itu dan memantul kembali ke kepalanya. Kepalanya pun benjol. Karena tidak berhasil, ia pun kembali ke kapalnya. Sepertinya nasib sial memang sedang menimpanya. Kasihan...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

5. Desa

32. Lawan Jadi Kawan

24. Pelajaran dari Seorang Penyanyi dan Nyanyiannya